Sekarang bayangkan seluruh Indonesia ataupun dunia aliran listrik hanya sampai jam delapan malam, setelah itu listrik akan dipadamkan, hanya lampu-lampu jalan dan bangunan publik seperti rumah sakit dan kantor polisi yang menyala. Televisi di rumah-rumah mati, radio juga, leptop yang baterainya soak tidak bisa dipakai, leptop yang baterainya bagus hanya bertahan paling lama enam jam, handphone juga begitu. Semua kenyamanan yang ada di dalam rumah mati. Suram? Gelap? Saya rasa tidak. Justru dengan tidak adanya listrik semua jadi lebih baik. Bapak-bapak tidak sibuk kerja dengan leptopnya, ibu-ibu tidak sibuk dengan televisi dan sinetron, anak-anak tidak bermain sendiri dengan Play Stasion ataupun smartphone yang gamenya banyak. Bapak-bapak kumpul di pos ronda, main gaplek, ngobrol sambil jaga lingkungan karena takut dalam situasi gelap ada pencuri, ibu-ibu duduk-duduk di beranda tetangga sambil ngegosip karena takut sendirian dirumah, anak-anak keluar bermain pedang-pedangan ala star wars dengan senter di dekat lampu jalan. Tidak ada yang jalan sendiri-sendiri, tidak ada yang sibuk sendiri. Oia satu lagi, kalo tidak ada lampu bintang jadi kelihatan indah sekali.
Tapi karena saya tidak bercita-cita jadi dirut PLN atau presiden, sepertinya itu hanya mimpi, ya hanya mimpi.
keren nih artikelnya, lanjut nulisnya mas
BalasHapus