apakah besok pagi kita akan berjumpa lagi? berjumpa dalam tenang tanpa nafas yang menderu seperti ini. Aku suka dirimu saat tersenyum manis, bukan seperti sekarang. Berapa kali ku katakan kau sangat cantik tanpa matamu nanar dan mengecawakan itu. Maaf kan aku terlalu menuntutmu. maafkan aku membuatmu melotot seperti hari ini. Aku tak ingin menyakitimu. Dengan seluruh ide tentang cinta yang dapat kupahami dan seluruh nafsu kelaki-lakianku, aku mencintaimu. Kadang ku sebut kau binal, tapi janganlah kau ambil hati, itu hanya usahaku untuk mendapat cubitan di perut atau rengekan manjamu yang selalu kusuka. Ahh, tapi besok aku mungkin tak akan menemukanmu lagi. Maafkan aku, membuatmu melotot seperti hari ini. Aku tak ingin menyakitimu. Aku ingat suatu hari saat kau ingin pergi pagi-pagi sekali, "melihat matahari pagi itu menenangkan", katamu. Itu hari yang indah sayang, rambutmu terurai mesra, wajahmu berwarna kuning keemasan, sedikit gelap disatu sisi, tapi aku menikmatinya. Kau tersenyum manis sekali. Sudah kukatakan berulang kali kau cantik jika tersenyum. Bukan dengan mata melototmu itu. Rona pagi yang sebentar lagi muncul tak akan bisa kau nikmati dengan mata melotomu itu.
oh ya, sebelum aku pergi, harus kuceritakan padamu soal ayahmu yang terburu-terburu menikahkan kita, aku benci itu. aku tak bisa hidup dalam takanan waktu, apalagi dari ayahmu. Ibumu pun demikian, kau pun demikian. Sudah berapa kali ku katakan aku benci hidup terburu-buru. Mungkin keluargamu tak mengerti ucapanku, kau pun sepertinya tak mengerti.
Semoga tali dilehermu, mata melototmu, dan lidahmu yang terjulur itu bisa membuat semuanya mengerti. Aku tak bermaksdu menyakitimu, hanya ingin membuatmu mengerti. Kini harus kutinggalkan kau dalam rona pagi yang tak bisa lagi kaunikmati. selamat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar