Kenapa selalu ada kata pemanis di dunia ini. Kenapa setiap orang selalu mengawali penolakan dengan kata sebenarnya kamu punya potensi, sebenarnya kamu pandai, sebenarnya kamu bisa, dan kata-kata pemanis lainnya. Kemudian di negasikan dengan kata tapi, sayangnya, dan namun. Kenapa tidak berkata saja yang seadanya. Katakan tak mampu jika memang tak mampu, katakan gagal jika memang gagal. Bukankah kata-kata pemanis itu seperti menebarkan benih yang sebenarnya telah gagal tubuh? Bukankah kata-kata kososng seperti itu tidak akan mampu membawa jiwa-jiwa yang gagal kearah yang lebih baik? Terlalu sering kata-kata pemanis itu diucapkan. Dalam eliminasi acara televisi, kata-kata seperti itu sering dilontarkan kepada peserta yang gagal bersaing, kemudian dibalas senyum lirih oleh peserta yang gagal itu. Masih pentingkah kata-kata itu? atau itu hanya upaya untuk menghibur hati yang duka?
saya tidak tahu, tapi nanti saya ceritakan saat saya mendapat kata-kata itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar