Saya merasa banyak tulisan saya disini tidak ber-arti. Banyak tulisan disini hanya berisi ocehan-ocehan, ungkapan tak berdasar, dan kata-kata yang dirangkai seperlunya. Itulah mengapa banyak yang tidak tertarik membacanya, hanya saya dan beberapa orang yang tersesat di dunia maya yang membaca tulisan ini (bisa tidak dihitung). Anehnya, saat-saat pertama go-blog, saya sangat mengharapkan orang membaca tulisan saya. terbukti dari banyak link-link tulisan di sini yang saya posting di halaman jejaring sosial. Semakin kesini, saya semakin sadar bahwa sebenarnya mengaharap orang membaca tulisan-tulisan disini adalah sebuah pemaksaan yang tak akan pernah berhasil. Bagaimana mereka mau membaca jika mereka tidak mengerti apa yang dituliskan?
Kita cenderung mencari arti dari sesuatu, mendefinisikan setiap rangkaian kata dengan batasan "apa yang kita tahu" bukan "apa yang kita ingin tahu". Karena memang dengan batasan itu semua akan berujung dan berkesudahan. Tapi batasan itu hanya mampu memenuhi hasrat keingintahuan dalam tingkatan "arti" bukan "makna". Kata "makna" mengacu kepada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak bisa
diucapkan dengan bahasa sehari-hari -- juga yang tak bisa ditangkap
makhluk yang rasional di bumi. Dengan kata lain, tulisan yang hanya ber-arti tanpa mampu menyampaikan makna akan lebih banyak diterima daripada tulisan yang tak ber-arti tapi bermakna dalam. Dan saya rasa itu cukup menjelaskan mengapa tulisan dwitasari lebih populer dibanding tulisan avianti armand atau goenawan muhammad.
tapi, apa tulisan saya disini bermakna? saya tidak berani berharap banyak akan hal itu
istilah penting :
"Makna" tak biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari; ia muncul dalam
retorika, puitis dan sedikit arkais. "Arti" kita jumpai kapan saja, tapi
bisa mengandung sesuatu yang penting. (disadur dari tulisan Goenawan Muhammad dalam catatan pinggir pada Minggu, 23 Juni 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar