Saat ini media sosial sudah menjadi sesuatu yang digandrungi banyak orang. Facebook dan twitter sudah menjadi halaman wajib yang ada di jendela perambah orang yang melakukan aktivitas dunia maya. Semakin hari, semakin banyak orang yang kecanduan media sosial (termasuk saya), dan kecanduan ini membuat orang-orang menjadi malas mencari, membaca, dan mengedarkan informasi dan berita lewat dunia nyata. Kepraktisan, keffisienan, dan harga yang murah adalah alasan utamanya. Perkembangan media sosial ini juga didukung dengan perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Semakin pintarnya telepon genggam yang digunakan manusia membuat akses informasi melalui dunia maya semakin mudah. Belum lagi dengan adanya komputer ukuran kecil (yang biasa disebut tablet) menambah kenyamanan para peselancar dunia maya ini.
Media sosial dan teknologi telah menjadi pasangan yang mesra. Manusia kini mengandalkan kepraktisan "pasangan" baru tersebut untuk mencari informasi. Orang-orang mulai beralih dari membaca koran setiap pagi menjadi memperbaharui status halaman facebook dan twitternya, atau sekedar melihat aktivitas yang terjadi di dunia maya. Namun, lama kelamaan orang-orang akan menjadi bosan melihat dan melakukan aktivitas yang begitu-begitu saja. Manusia membutuhkan informasi yang segar setiap harinya, dan tentu saja dari sumber yang dapat dipercaya selain teman-teman di facebook atau pengikut di twitter. Manusia membutuhkan berita dan informasi lainnya, tapi tetap tidak menghilangkan kepraktisan yang sudah dirasakan saat ini.
Koran sebagai penyalur informasi dan berita menjadi salah satu media yang harus menyesuaikan dengan hal tersebut. Koran, mau tidak mau, harus tetap menjadi penjamin tersedianya berita dan informasi bagi masyarakat, tetapi juga harus tidak mengganggu dan mengurangi kenyamanan masyarakat akan nilai-nilai kepraktisan dan keefisienan yang sudah dianut saat ini. Pasalnya, koran model konvensional, dengan kertas, telah dipertanyakan keefektivannya. Ukuran yang besar dan mudah kusut menjadi masalah. Selain itu, penggunaan kertas dianggap dapat merusak ekosistem bumi yang kita cintai bersama ini.
Demi memenuhi tuntan tersebut, kantor-kantor berita -nasional maupun internasional- kemudian membuat situs berita di dunia maya yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan "manusia dunia maya" akan informasi yang terpercaya. Situs-situs berita menjadi semakin banyak dan semakin beragam. Orang-orang yang aktif di dunia maya dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Kantor-kantor berita juga berbenah, kebutuhan akan biaya operasional kini tidak lagi bergantung pada hasil penjualan koran dan iklan di koran saja, tetapi juga iklan-iklan di situs beritanya. Permasalahan dimulai disini, jadilah situs berita lebih banyak iklan yang ditampilkan daripada berita yang disampaikan
Permasalahan tidak berhenti disitu, persaingan yang ketat antar situs-situs berita mengharuskan setiap situs berita menjalanakan promosi yang kuat pula. Situs-situs berita online kini mulai aktif dalam jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Lewat twitter, situs-situs berita memperbaharui setiap informasi yang ada melalui lini masa para pengikutnya, dan lewat facebook situs online yang sudah dikenal menyebarkan informasi lewat halaman beranda teman-temannya. Hal ini sebenarnya berdampak positif bagi persebaran informasi. Orang-orang akan semakin terbaharui (up to date) informasi yang diterimanya. Namun, keterbatasan penggunaan karakter kata di media sosial mengharuskan situs-situs berita menggunakan judul-judul yang sering kali berbau kontroversial sehingga orang menjadi tertarik dan penasaran untuk membaca. Hal ini sering terjadi di twitter dan promosi berita pada jendela facebook sebelah kanan (kadang disertai foto sensual yang tidak ada sangkut pautnya dengan berita). Permasalahan ini semakin pelik ketika pembaca --yang semula mencari informasi yang lengkap -- menjadi merasa terpenuhi hasrat keingintahuannya setelah hanya membaca judul dan melihat foto yang disampaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar