Jumat, 19 Juli 2013

Bicara Cinta



Saya benci kata rindu, karena rindu mengharuskan adanya jarak. Lihat banyaknya kata rindu yang di kata sepasang kekasih yang berjauhan. Bukankah sangat jarang seorang pasangan yang berhadapan di restoran memegang tangan pasangannya lalu berujar, "aku rindu padamu sayangku". Jika kata itu keluar, menurut saya itu seperti kalimat satir, yang menyindir pasangannya karena telah berubah sikap atau perhatiannya, dan itu berarti telah tercipta jarak diantara keduanya. Kata rindu juga mengisyaratkan sebuah ketidakmampuan untuk mencapai sesuatu. Lihat pepatah, bagai punguk merindukan bulan, dan lihat bagaimana kata rindu dijadikan sebuah penggambaran kemustahilan.

Saya tak mau merindu, seperti mereka yang tengah terpisah. Saya ingin mencinta tanpa rindu, karena saya ingin memiliki setiap jengkal tubuh wanita yang saya cintai. Jika di kata ini nafsu, ya, saya mungkin bernafsu, tapi setidaknya nafsu untuk mencintai. Bagi saya, sangat tidak mungkin orang hanya ingin memiliki sukma, tanpa raga, atau mencintai tanpa memiliki. Karena cinta yang sebenarnya mengharuskan adanya percampuran antara pria dan manusia yang berarti kepemilikan antara satu dan lainnya. Bukankah istilah untuk anak manusia adalah buah cinta? Jadi mengapa masih mempertanyakan bagaimana cinta yang sebenarnya? Masih tidak percaya bahwa cinta mengharuskan kepemilikan raga? Mungkin kisah cinta romeo dan juliet bisa menjelaskan. Dalam kisah cinta yang sering dianggap kisah cinta suci ini, lihat bagaimana juliet bunuh diri setelah tahu pasangan terkasihnya, romeo, mati. Mungkin juliet resah, tak bisa memiliki raga pasangannya. Bisa juga dia putus asa, karena takut kerinduannya tak bisa tersalurkan.

Jadi, ketika ada cinta yang tidak tersampaikan, sudah saatnya berpaling dan mencari cinta lain yang memungkinkan untuk menjalin sebuah hubungan yang bisa berakhir dengan kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar