Akhir-akhir saya tertarik dengan masalah PKI, terutama masalah pembantaian yang dilakukan oleh ormas-ormas di Indonesia terhadap orang-orang yang dituduh komunis, pendukung komunis, baik orang awam dan intelektual, pasca kejatuhan partai yang dianggap anti-agama ini. Ketertarikan saya timbul akibat salah satu film dokumenter yang berjudul The Act of Killing atau Jagal, dalam rilisnya di indonesia. Film ini kurang lebih menceritakan tentang pembunuhan atau penghabisan anggota-anggota PKI di Medan, Sumatera Utara oleh Pemuda Pancasila. Tapi, saya tidak akan bercerita tentang film ini. Saya lebih tertarik dengan pembantaian PKI di daerah saya SItubondo. Sekedar informasi, Situbondo adalah sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur yang merupakan basis pendukung dari partai PKB dan Nahdatul Ulama. Pada saat saya kecil, banyak cerita-cerita tentang penemuan tulang manusia di daerah tempat saya tinggal sekarang. Tulang bekas anggota PKI katanya. Selain itu, di daerah saya ada sebuah jurang yang namanya Corah Tangis, atau Jurang Tangisan. Dari cerita-cerita yang berhasil saya dapatkan, dinamakan seperti itu karena jurang itu adalah tempat pembuangan para komunis, atau setidaknya dianggap demikian. Para korban pembantaian, yang dulu dianggap tersangka, itu disiksa lalu dibuang di jurang itu. Kebanyakan dari mereka tidak mati sehingga yang terjadi adalah tangisan-tangisan menyesakkan dari bawah jurang. Anehnya, banyak yang tau itu dan tidak banyak dan mungkin tidak ada yang mau menolong.
Berbeda dengan Sumatera Utara yang pembantaiannya dilakukan oleh ormas Pancasila, di Situbondo pembantaian dilakukan oleh pemuda-pemuda Ansor yang merupakan organisasi pemuda di bawah NU. Tugasnya sederhana, tangkap, siksa, bunuh, buang. Saya tidak tau berapa banyak korban yang mati di Situbondo, tapi yang jelas banyak korban yang mati dan menjadi mati, sampai-sampai jurang itu menimbulkan suara tangisan. Permasalahannya adalah, banyak masyarakat di daerah tidak tau bahwa organisasi yang di ikutinya adalah bagian dari partai komunis. Contohnya adalah nenek saya sendiri yang baru tau bahwa Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) adalah bagian dari PKI, cerita dari kakek saya tentang saudaranya yang merupakan anggota dari BTI (Barisan Tani Indonesia) harus meminta ampun saat diinterogasi oleh sekelompok orang yang pada waktu merazia anggota-anggota PKI. Banyak petani-petani di desa lebih tahu BTI adalah Barisan Tani Islam dan tidak ada sangkut pautnya dengan PKI ataupun komunis. Fakta-fakta ini mencengangkan, mengingat pembantaian yang dilakukan ini tidak mengenal siapa, apa, mengapa, asalkan dia bagian dari anggota PKI ataupun organisasi dibawahnya di tangkap, di muat ke atas truk, kemudian tidak kembali. Ini berarti lebih dari separuh orang yang menjadi korban pembantaian adalah orang-orang tidak bersalah dan tidak tahu menahu mengenai duduk persoalannya.
PKI sendiri adalah partai populer pada 50an atau 60an. Massa mereka sebagian besar adalah para petani dan buruh, karena memang PKI selalu mengangkat tema-tema seperti ini. Lambang palu dan arit berlatar belakang merah diidentikkan dengan petani dan buruh. Ide-ide tentang kepemilikan tanah untuk para petani miskin dan menentang pemilik tanah membuat partai ini sangat populer. Wilayah Situbondo adalah daerah yang oleh Belanda dijadikan salah satu daerah penghasil gula, tercatat sekitar lima pabrik gula di wilayah ini yang masih beroperasi hingga saat ini. Jumlah perkebunan tebu yang luas tentu saja berbanding lurus dengan jumlah para petani di wilayah ini. Namun, kepemilikan lahan di wilayah ini sangat di dominasi oleh ulama lokal seperti pengasuh pondok pesantren dan orang-orang dengan gelar haji yang rata-rata adalah anggota NU.
Isu-isu tentang pembagian lahan untuk para petani tentu saja merupakan angin tidak segar bagi para pemilik tanah ini. Seperti peristiwa pembantaian di Sumatera Utara yang dilakukan oleh preman bioskop, karena mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan), faktor ketidaksukaan dan keuntungan adalah motivasi utama pembantaian yang terjadi di Situbondo. Pertentangan yang terjadi di sini tidak lagi antara negara dan musuh ideologi, melainkan isu-isu agama dijadikan "bumbu" manis yang turut memanaskan suasana di Situbondo, dan mungkin juga di Jawa Timur. Islam bersama militer melawan komunis. Tokohnya sudah jelas, NU dengan Ansor-nya bersama anggota militer melawan para petani yang tidak mengerti apa. Hasilnya lebih jelas lagi, PEMBANTAIAN.
NB : tulisan ini masih merupakan tulisan argumentatif banyak hal yang dipaparkan masih berupa keterangan orang per-orang dan data dari sumber internet dan beberapa buku. Data yang tidak bisa saya dapatkan adalah tentang keterangan dari beberapa orang mengenai keganasan organisasi-organisasi PKI di daerah. Sampai saat ini tidak ada data ataupun sumber dari internet yang berhasil saya temukan yang secara jelas dan meyakinkan mendukung pendapat tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan mantan-mantan anggota PKI (yang mengerti dan tidak mengerti) sudah habis dibantai tanpa diadili.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus