Kamis, 15 Agustus 2013

Mbah Petani

Seperti kebanyakan keluarga lainnya, fenomena lebaran berhasil mempertemukan keluarga saya dengan keluarga-keluarga lain yang masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga saya. Tidak terkecuali seorang keluarga petani yang mana adalah keluarga dari kakak angkat saya, yang mana (lagi) hal tersebut berarti petani tembakau itu adalah kakek dan nenek saya. Sebenarnya sudah setiap tahun saya berkunjung ke rumah Mbah saya itu, jadi tidak ada kecanggungan ataupun perasaan asing waktu bertemu. Mbah saya ini adalah petani dan peternak. Sebagai peternak dia punya sekeluarga Sapi di depan rumahnya, tapi sebagai petani, mbah saya masih harus menyewa lahan karena, seperti petani kebanyakan di wilayah Situbondo, mbah saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli lahan.

Kakek atau Mbah saya ini adalah seorang petani tembakau sekaligus pengolah tembakau. Dia bercerita bahwa bertani dan mengolah tembakau diajarkan secara turun temurun dari keluarganya. Maklum, pada jaman penjajahan dulu, wilayah tapal kuda (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember) merupakan salah satu penghasil tembakau dan penghasil tebu yang cukup besar. Jadi tidak salah jika di daerah tersebut banyak orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan mengolah tembakau. 

Sore itu mbah saya curhat soal lahan tembakau anaknya yang rusak karena terkena angin, rugi besar, tidak bisa di tolong lagi katanya. Dia kecewa bukan hanya karena rugi, tapi karena gagal mengajari anaknya. 

Itu baru kena angin, bagaimana nanti jika rokok dilarang karena merusak kesehatan generasi bangsa, merokok diharamkan karena di anggap pekerjaan sia-sia dan banyak ruginya, petani tembakau tidak boleh menanam tembakau, dan disuruh menanam padi dan palawija karena produksi tembakau hanya untuk kosmetik dan obat yang tidak seberapa. Bagaimana mbah saya? bagaimana petani temabakau? 

Kasihan nasibmu mbah,,

2 komentar:

  1. solusi nihh: lahannya jadiin kandang sapi aja biar keluarga sapinya makin banyak jaya dan tak usah bertani :D

    BalasHapus
  2. hahaha. itu mungkin bisa ya? tapi budaya turun temurunnya hilang

    BalasHapus