Kakek atau Mbah saya ini adalah seorang petani tembakau sekaligus pengolah tembakau. Dia bercerita bahwa bertani dan mengolah tembakau diajarkan secara turun temurun dari keluarganya. Maklum, pada jaman penjajahan dulu, wilayah tapal kuda (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember) merupakan salah satu penghasil tembakau dan penghasil tebu yang cukup besar. Jadi tidak salah jika di daerah tersebut banyak orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan mengolah tembakau.
Sore itu mbah saya curhat soal lahan tembakau anaknya yang rusak karena terkena angin, rugi besar, tidak bisa di tolong lagi katanya. Dia kecewa bukan hanya karena rugi, tapi karena gagal mengajari anaknya.
Itu baru kena angin, bagaimana nanti jika rokok dilarang karena merusak kesehatan generasi bangsa, merokok diharamkan karena di anggap pekerjaan sia-sia dan banyak ruginya, petani tembakau tidak boleh menanam tembakau, dan disuruh menanam padi dan palawija karena produksi tembakau hanya untuk kosmetik dan obat yang tidak seberapa. Bagaimana mbah saya? bagaimana petani temabakau?
Kasihan nasibmu mbah,,
solusi nihh: lahannya jadiin kandang sapi aja biar keluarga sapinya makin banyak jaya dan tak usah bertani :D
BalasHapushahaha. itu mungkin bisa ya? tapi budaya turun temurunnya hilang
BalasHapus