Kamis, 04 April 2013

Pos Ronda kami

Di komplek rumah saya, di Situbondo sana, ada sebuah pos ronda, di sudut jalan komplek kami yang kecil. Pos ronda itu tidak terlalu besar, warnanya biru cerah, atapnya dari genteng sisa pembangunan rumah. Di belakang pos ronda itu ada sawah, biasanya ditanam padi, tapi lebih sering jagung. Di dekat pos ronda itu ada lapangan sepak bola yang tanahnya tidak rata, dan banyak kotoran kambingnya, di utara pos ronda ada sungai kecoklatan yang cukup luas untuk berenang. Biasanya sebelum kelapangan, kami berkumpul di pos ronda itu untuk menunggu teman-teman yang lain, sekalian bercanda dan terkadang bercerita tentang siapa yang paling cantik di kompleks kami. Dan saat siang terlalu panas, kami berkumpul di pos ronda itu, mandi di sungai yang seperti susu coklat. Malamnya, seusai shalat Isyak, kami berkumpul lagi. Jika malam itu malam minggu dan sedang musim jagung, kami sudah siap dengan kayu bakar dan minyak tanah satu liter, yang dulu harganya masih 1000 rupiah se-liter.  Malam minggu itu kami akan makan jagung bakar dengan bau minyak tanah sedikit.

Tapi itu dulu, itu dulu saat kami masih menjadi anak-anak yang tidak takut pada penjaga sawah, tidak peduli pada dosa, dan tidak terbebani apa-apa. Sekarang beda, generasi saya sudah tua, sudah tidak di kompleks kami dulu, jadi mungkin pos ronda itu bisa kami wariskan pada generasi dibawah kami atau mungkin dimanfaatkan dengan benar sebagai pos ronda dan bukan markas para pencuri jagung. Sayangnya, jaman sudah beda, anak-anak jaman sekarang sudah tidak lagi main bola, tidak suka jagung bakar bau minyak tanah, tidak suka mandi di sungai coklat. Mereka lebih suka main game online sambil sembuyi-sembunyi merokok dan berkeringat karena seharian gak mandi demi chips poker atau pangkat PB (point blank).

Ah dosa kami terlalu cepat dewasa, sehingga tidak sempat memberitahu mereka, asyiknya main bola sambil loncat-loncat karena menghindari kotoran kambing, segarnya mandi di sungai warna susu coklat, enaknya  jagung curian dengan rasa minyak tanah sedikit.

Akhirnya pos ronda sarang pencuri jagung tidak memiliki pewaris. Dia tergolek lemah tak berdaya di sudut kompleks. Terlupakan? dilupakan tepatnya. Dilupakan oleh generasi baru jaman globalisasi, yang tidak suka mencuri jagung tapi mencuri kesempatan merokok, yang tidak suka berbasah-basahan dengan air sungai yang coklat tapi basah dengan keringat karena panas bilik warnet sempit dan asap rokok.


               Ini pos kami sekarang, hampir rubuh

Saya tidak berharap kamu rubuh wahai pos ronda, tapi jika dengan bertahannya kamu, kamu akan semakin dilupakan, ditinggalkan, dan dijadikan untuk tempat kencing orang tak bertanggung jawab, maka akankah lebih baik kamu roboh dan membiarkan cerita saya dan teman-teman saya tersimpan dalam ingatan saya saja. Saya ikhlas. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar