Rabu, 17 April 2013

Perang

Saya merindukan perang, perang zaman dahulu. Saat tidak ada kendaraan tempur semacam tank dan pesawat tempur, saat tak ada bahan peledak semacam mesiu dan yang lainnya, saat pakaian dari rantai besi masih seberat aslinya, atau saat tajamnya pedang dan tombak menjadi andalan. Saat itu tak ada konsep aerodinamis dan perhitungan matematika rumit untuk mencari sasaran karena semua berkumpul di tanah yang lapang, menggenggam pedang, mencari sasaran. Insting manusia benar-benar menjadi penting untuk bersiap pada saat genting, kuda-kuda tegap dengan pengendara gagah menenteng pedang berada di baris belakang, pemanah di depannya siap dengan busur dan anak panah yang melesat di udara, tak bersuara, di baris depan pria-pria dengan pedang dan tameng yang nafasnya kencang, bersiap berlari menunggu perintah untuk maju, diantara mereka ada penabuh genderang dan pembawa bendera pemberi semangat untuk berjuang.
Semuanya datang ke medan pertempuran, dari raja, penasihat, menteri, pendeta, dan jenderal perang sudah pasti terdepan. Di rumah hanya ada istri yang berdoa untuk suaminya, anak-anak yang sesekali melihat ke arah gerbang depan berharap ayahnya cepat datang, dan penduduk renta yang bercerita kisah kepahlawanan zaman nenek moyang. Kembali ke medan pertempuran, semuanya diam, jenderal perang dan raja maju ke depan bertemu lawan, membicarakan persoalan, kedudukan seimbang dan kepandaian mengintimidasi jadi andalan, yang berpikir lemah akan menyerah, yang berpikir kuat akan terangkat. Namun, saat semua sudah siap, apa yang harus ditakutkan?
Raja dan jenderal perang kembali ke belakang, memberi wejangan terakhir sebelum pertempuran, membakar semangat pasukan. Teriakan-teriakan intimidasi dilancarkan, genderang perang ditabuh, bendera lambang kerajaan di kibarkan. Jenderal perang memberi aba-aba, siapa yang gegabah, dia yang akan kalah.
Namun ini bukan perkara menang atau kalah, ini masalah kebanggaan, kebanggaan untuk kerajaan dan keluarga. Ini bukan perkara uang penghasilan menjadi pasukan, tapi kerelaan untuk membela kerajaan yang dianggap sejalan. Kehormatan, kebanggaan, semangat juang menjadi satu, berpadu dalam darah yang menetes dari luka sabetan pedang. Melihat siapa yang dibunuh, siapa yang terbunuh, dan siapa yang membunuh. Tak ada pengecut yang membunuh orang-orang tak tau apa-apa, karena di padang itu yang ada orang-orang yang siap mati demi apa yang dibela, bukan orang yang sedang di kafe, klub malam, ataupun dikeramaian. Pada saat itu semua yang mati akan meninggalkan cerita bahagia bagi anaknya, istrinya, adiknya, ibunya, dan orang-orang disekitarnya, cerita karena mati berperang dalam membela kerajaan, bukan mati karena terkena ledakan bom yang disembunyikan sehingga menyisakan cerita pedih menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar