Sabtu, 04 Mei 2013

Cermin

Sering sekali dia ingin menulis, tapi tidak tau apa yang harus ditulis. Seperti orang yang ingin buang air tapi tidak tau apa yang harus dikeluarkan. jijik. eee.. mungkin lebih seperti orang yang hendak berjalan-jalan tapi dia tak tau hendak kemana. Akhirnya dia hanya berputar-putar antara kamar tidur dan ruang tamu, kamar tidur lagi lalu ke ruang tamu, sedikit nyasar ke dapur atau ke kamar mandi. Dia berputar-putar di tempat yang sama, sebenarnya ingin pergi tapi tidak tahu harus kemana. Apa karena tidak baca koran pagi  atau tidak ada televisi disana, sehingga dia tidak tau ada tempat lain selain rumahnya.

Seperti itulah dia. Ingin menulis indah macam sastrawan yang kuliah jurusan bahasa, atau menulis kritis macam ilmuwan lulusan filsafat, tapi tidak mau, tidak ingin, dan tidak niat baca. Ya ujung-ujungnya menulis dengan gaya yang begitu-begitu saja, tidak ada perkembangan. Dari puisi yang  menye-menye, tulisan curhatan gak jelas, cerita yang akhirnya ngambang, hingga kritik yang dipaksakan.

Kenapa dia tidak sadar ya? apa perlu ada orang yang harus mengingatkan atau bahkan mencelanya habis-habisan. Ya, mungkin itu perlu, agar dia sadar dan segera berubah. Tapi siapa? banyak orang yang sungkan karena merasa dia lebih tua, atau ingin menghargai haknya. Tapi kalo dibiarkan, dia bisa tersesat jauh, bukan maju atau mundur tapi berjalan di tempat, tapi dia merasa sudah jalan bermil-mil jauhnya. 

Kasihan dia, harusnya dia bisa sadar dan kembali ke jalan yang "benar". Jangan seperti sekarang, bisanya cuma obral omongan, merasa paling benar padahal semuanya cuma bualan. Tunggu,, apa yang lain tidak sadar?  Atau sengaja membiarkan karena memang menganggap dia sebagai bahan tertawaan. Bahan tertawaan yang tidak pernah marah atau protes dan bersedia menerima segala bentuk cacian? Benar-benar orang yang malang.


Balada Seorang Pelacur

1
hidupilah aku dengan tawa burukmu yang mungkin tak pernah kau tunjukkan untuk binimu, untuk keluargamu.
hidupilah aku dengan tangan-tangan kasar berkuku runcing yang kau gunakan padaku tapi tidak untuk binimu, untuk keluargamu.
hidupilah aku dari uang hasil kerjamu yang mungkin tidak kau berikan untuk binimu, untuk keluargamu

2
aku, dia, kami adalah satu, tidak sama tapi satu
satu jenis, satu bentuk, satu harga
aku, dia, kami adalah satu, tidak sama tapi satu
satu tempat, satu rasa, satu warna
terkadang kami laku, terkadang aku laku, terkadang dia laku

3
hidup ini tidak seperti pohon kelapa yang semuanya berguna, selalu ada sisa
hidup aku ini sisa, sisa-sisa kehidupan yang dipoles menjadi sesuatu yang berwarna
sisa-sisa dari mereka yang menang atas nama jiwa dan kehormatan
sisa-sisa dari mereka yang tak mampu mengalahkan jiwa dan kehormatan

4
jangan bilang aku kotor, wewangianku memabukkan mereka yang mudah tergoda
jangan bilang aku hina, pakaianku lebih indah dari mereka yang berjalan diatas arena
jangan bilang aku mudah menyerah, kerjaku selalu mengalahkan bulan hingga dia tenggelam

sebut aku terhormat, karena membuat kau bangga pada hidup kalian atas hidup ku yang derita
sebut aku terhormat, karena membuat kau tersenyum pada cermin atas nasib ku yang suram

5
jangan salahkan aku.
tak pernah aku menggoda, aku bukan penggoda
tak pernah aku merayu, aku bukan perayu
mereka yang terpikat, mereka yang terjerat
mereka yang sadar, mereka yang membayar

6
malam ini ramai orang
aku duduk memandang jalan
mereka tertawa, menggoda, dan girang
aku diam, merokok, dan bosan


setiap malam, setiap tamu, setiap tempat
selalu berbeda, selalu menggoda, selalu sama


7
menjadi aku tidak mudah, tidak seperti menjadi ibumu yang susah mengurusmu,
berkorban demi uang yang dihabiskan untuk berdandan, rokok, dan berdandan
menjadi aku itu susah, tidak seperti istrimu yang mudah melayanimu,

berkorban demi pria yang selalu mengumpat dan pergi setelah terpuaskan

apa aku boleh muak? karena mata mereka selalu menatap aku nista
apa aku boleh benci? karena mulut mereka selalu mengatai aku hina
apa aku harus dicaci? karena pekerjaanku tak suci
apa aku perlu lari? karena mereka menginginkan aku mati

8
satu demi satu mereka datang kemudian hilang dengan uang ditangan
satu demi satu mereka singgah kemudian esok pindah menyisakan sampah
satu demi satu mereka pulang kemudian kembali pada istri tersayang

yang tersisa hanya seonggok daging yang berlubang bekas pelampiasan
yang tersisa hanya wanita yang terlentang dengan uang disamping ranjang
yang tersisa hanya hasrat yang hilang karena jijik dengan apa yang dilakukan

9
banyak wanita seperti aku
mereka bekerja bermodal badan
hanya tak mau mengaku
karena malu pada handai taulan

banyak wanita seperti aku
menjual tubuh dengan harga sepadan
hanya tak mau mengaku
karena takut dikenal teman

banyak wanita seperti aku
memamerkan tubuh di depan layar
hanya tak mau mengaku
karena pandai bermain peran

10
mungkin memang aku yang harus dicela karena tak sesuai dengan norma
atau memang mereka yang terlalu mahir bersembunyi dibaliknya
mungkin memang aku yang harus pergi karena terlalu mengotori
atau mereka yang menahanku agar ada tempat mereka sembunyi

kadang hidup menjadi beban, meski tak harus meminta makan
karena keadaan selalu menjadi alasan untuk bekerja malam
dalam keseharian berkecukupan terkadang masih kekurangan
kekurangan alasan untuk men-sah-kan alasan bekerja malam

menjadi aku itu mudah
kembali seperti dulu itu sulit
terlalu jauh jalan kembali
atau terlalu malas untuk kembali

11
tidak cukup dengan kata cukup, tidak, atau hentikan
tidak bisa dengan uang yang jumlahnya beribu
butuh waktu setahun, dua tahun, atau bertahun-tahun
butuh tubuh yang sudah bau, kaku, dan tidak laku

12
bau, kaku, tidak laku
katakan layu pada bunga yang dulu penuh madu
bau, kaku, tidak laku
katakan mati pada bunga yang tak lagi punya malu




Rabu, 01 Mei 2013

Bukan Kami

wahai anakku sayang,
janganlah kau bersedih.
kami mengerti kecewamu...
kami mendengar harapmu..

wahai anakku sayang,
kami bukan mereka yang picik, yang melihat dari satu sisi kecewamu..
kami bukan mereka yang tuli, yang menutup telinga untuk harapmu..

kami mendengar, kami melihat..
kami mengetahui, kami menimbang..

wahai anakku sayang,
janganlah kau gusar.
karena ini masih jauh dari akhirmu, terlampau jauh
masih cukup waktumu untuk berubah
masih cukup waktumu untuk bersyukur

tapi anakku sayang,
kami tidak bisa memberimu apa-apa, karena bukan kami yang kuasa,
tidak juga janji,  karena bukan kami yang punya
tidak juga asa, karena bukan kami yang Esa

Sabtu, 27 April 2013

Pemuda dan Kota

Alkisah pada sebuah masa, hiduplah seorang pemuda. Dia tinggal di sebuah kota kecil dimana adat  istiadat masih berakar kuat dalam hati setiap manusia yang tinggal disana. Dia hidup tanpa orang tua, ayahnya mati di negeri nun jauh ketika hendak kembali dari perantauannya, ibunya tak tau hajatnya. Sebagai pemuda yang hidup sebatang kara, dia selalu tertawa. Banyak orang yang menyebutnya gila karena masih dapat tertawa dalam hidupnya yang sengsara dan banyak pula yang menyebutnya jenaka karena dia selalu berkelakar setiap harinya. Namun, siapa yang bisa menebak perihal apa yang ada di hati setiap pemuda. Jika ada yang berucap dia gila, tersenyum lah dia, dan jika ada yang tertawa karena kelakar yang dia bawa, ikut bahagialah hatinya.
Sebagai seorang pemuda, tak lengkaplah jika dia tidak bekerja, karena pantang bagi seorang pemuda di desanya jika tidak bekerja. Mereka lebih takut pada pergunjingan yang akan timbul akibat menjadi pengangguran ketimbang perasaan takut tidak bisa melanjutkan hidup karena patuh pada nilai adat adalah yang utama. Rasa malu lebih menakutkan daripada sepasukan tentara yang berkumis seperti pagar kantor lurah, lebih seram dari cerita-cerita hantu di kuburan belanda di sebelah rumah janda tua kaya di ujung desa. "Setiap yang muda, musti bekerja." begitu kata para orang tua.
Sebagai pemuda yang sering dianggap gila, sangatlah sulit baginya untuk mendapat pekerjaan sebagaimana pemuda pada umumnya. Pernah suatu pagi, dia pergi ke ladang bermaksud meminta kerja pada yang empunya tanah, tapi bukan pekerjaan yang dia dapat, melainkan hinaan yang dia bawa. "ah.... " katanya sambil tersenyum dan pergi menjauh dari laki-laki tua yang menghinanya. Sudah lama dia tidak bekerja, jangankan mendapat kerja, mendapatkan perlakuan yang sama selalu menjadi kesulitan untuknya. Hingga suatu waktu, dia memutuskan untuk pergi, hijrah seperti cerita nabi demi mencari perlakuan yang lebih baik daripada tempat dia selalu dihina.

.....bersambung

Rabu, 24 April 2013

merasa ditampar

pernahkah anda ditampar?
ditampar pacar anda karena anda ketahuan selingkuh? bukan, bukan tamparan itu yang saya maksud.
ditampar guru karena anda memanjat pagar sekolah untuk membolos? bukan, bukan itu juga

ohh, mungkin saya salah bertanya.
pernahkah anda merasa ditampar?
merasa ditampar? apa bedanya dengan ditampar?
itu berbeda. di mana perbedaannya?

jadi, ditampar berarti sudah terjadi, nyata, dan terasa di pipi kanan atau kiri,
tapi merasa ditampar berarti tidak terjadi, tidak nyata, dan terasa di hati.

saya bingung.
ah percuma menjelaskan.
anda akan tahu rasanya jika nanti di suatu waktu, di malam sabtu yang dingin, anda melihat seorang wanita dengan rok mini dan pakaian setengah jadi yang anda hujat setengah mati di dalam hati, duduk bersimpuh di depan pengemis tua sambil memberinya sebotol minuman dan sebungkus roti, dan anda hanya bisa diam dan berlalu meninggalkan pengemis itu dengan uang lima ratus rupiah sisa dari membeli kopi dan permen seharga enam ribu lima ratus.

Rabu, 17 April 2013

Perang

Saya merindukan perang, perang zaman dahulu. Saat tidak ada kendaraan tempur semacam tank dan pesawat tempur, saat tak ada bahan peledak semacam mesiu dan yang lainnya, saat pakaian dari rantai besi masih seberat aslinya, atau saat tajamnya pedang dan tombak menjadi andalan. Saat itu tak ada konsep aerodinamis dan perhitungan matematika rumit untuk mencari sasaran karena semua berkumpul di tanah yang lapang, menggenggam pedang, mencari sasaran. Insting manusia benar-benar menjadi penting untuk bersiap pada saat genting, kuda-kuda tegap dengan pengendara gagah menenteng pedang berada di baris belakang, pemanah di depannya siap dengan busur dan anak panah yang melesat di udara, tak bersuara, di baris depan pria-pria dengan pedang dan tameng yang nafasnya kencang, bersiap berlari menunggu perintah untuk maju, diantara mereka ada penabuh genderang dan pembawa bendera pemberi semangat untuk berjuang.
Semuanya datang ke medan pertempuran, dari raja, penasihat, menteri, pendeta, dan jenderal perang sudah pasti terdepan. Di rumah hanya ada istri yang berdoa untuk suaminya, anak-anak yang sesekali melihat ke arah gerbang depan berharap ayahnya cepat datang, dan penduduk renta yang bercerita kisah kepahlawanan zaman nenek moyang. Kembali ke medan pertempuran, semuanya diam, jenderal perang dan raja maju ke depan bertemu lawan, membicarakan persoalan, kedudukan seimbang dan kepandaian mengintimidasi jadi andalan, yang berpikir lemah akan menyerah, yang berpikir kuat akan terangkat. Namun, saat semua sudah siap, apa yang harus ditakutkan?
Raja dan jenderal perang kembali ke belakang, memberi wejangan terakhir sebelum pertempuran, membakar semangat pasukan. Teriakan-teriakan intimidasi dilancarkan, genderang perang ditabuh, bendera lambang kerajaan di kibarkan. Jenderal perang memberi aba-aba, siapa yang gegabah, dia yang akan kalah.
Namun ini bukan perkara menang atau kalah, ini masalah kebanggaan, kebanggaan untuk kerajaan dan keluarga. Ini bukan perkara uang penghasilan menjadi pasukan, tapi kerelaan untuk membela kerajaan yang dianggap sejalan. Kehormatan, kebanggaan, semangat juang menjadi satu, berpadu dalam darah yang menetes dari luka sabetan pedang. Melihat siapa yang dibunuh, siapa yang terbunuh, dan siapa yang membunuh. Tak ada pengecut yang membunuh orang-orang tak tau apa-apa, karena di padang itu yang ada orang-orang yang siap mati demi apa yang dibela, bukan orang yang sedang di kafe, klub malam, ataupun dikeramaian. Pada saat itu semua yang mati akan meninggalkan cerita bahagia bagi anaknya, istrinya, adiknya, ibunya, dan orang-orang disekitarnya, cerita karena mati berperang dalam membela kerajaan, bukan mati karena terkena ledakan bom yang disembunyikan sehingga menyisakan cerita pedih menyakitkan.

Selasa, 16 April 2013

Mungkin Nanti

Disana ada ledakan, disana teriakan, banyak orang yang berlari, karena tepat dengan lomba lari. Mungkin nanti ada yang diserang lagi, mungkin nanti ada yang dihancurkan lagi, mungkin nanti ada pengeboman lagi, atau mungkin tak akan ada lagi yang terjadi. Mungkin nanti, tak ada yang mengerti.