Sering sekali dia ingin menulis, tapi tidak tau apa yang harus ditulis. Seperti orang yang ingin buang air tapi tidak tau apa yang harus dikeluarkan. jijik. eee.. mungkin lebih seperti orang yang hendak berjalan-jalan tapi dia tak tau hendak kemana. Akhirnya dia hanya berputar-putar antara kamar tidur dan ruang tamu, kamar tidur lagi lalu ke ruang tamu, sedikit nyasar ke dapur atau ke kamar mandi. Dia berputar-putar di tempat yang sama, sebenarnya ingin pergi tapi tidak tahu harus kemana. Apa karena tidak baca koran pagi atau tidak ada televisi disana, sehingga dia tidak tau ada tempat lain selain rumahnya.
Seperti itulah dia. Ingin menulis indah macam sastrawan yang kuliah jurusan bahasa, atau menulis kritis macam ilmuwan lulusan filsafat, tapi tidak mau, tidak ingin, dan tidak niat baca. Ya ujung-ujungnya menulis dengan gaya yang begitu-begitu saja, tidak ada perkembangan. Dari puisi yang menye-menye, tulisan curhatan gak jelas, cerita yang akhirnya ngambang, hingga kritik yang dipaksakan.
Kenapa dia tidak sadar ya? apa perlu ada orang yang harus mengingatkan
atau bahkan mencelanya habis-habisan. Ya, mungkin itu perlu, agar dia
sadar dan segera berubah. Tapi siapa? banyak orang yang sungkan karena
merasa dia lebih tua, atau ingin menghargai haknya. Tapi kalo dibiarkan,
dia bisa tersesat jauh, bukan maju atau mundur tapi berjalan di tempat,
tapi dia merasa sudah jalan bermil-mil jauhnya.
Kasihan dia, harusnya dia bisa sadar dan kembali ke jalan yang "benar". Jangan seperti sekarang, bisanya cuma obral omongan, merasa paling benar padahal semuanya cuma bualan. Tunggu,, apa yang lain tidak sadar? Atau sengaja membiarkan karena memang menganggap dia sebagai bahan tertawaan. Bahan tertawaan yang tidak pernah marah atau protes dan bersedia menerima segala bentuk cacian? Benar-benar orang yang malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar