Kemarin di halaman depan sebuah koran pagi, ada sebuah berita tentang orang-orang yang selalu kita benci, orang-orang yang berkantor di gedung bekas peninggalan NEFO zaman Pak Karno. Seperti biasa, mereka menghiasi berita koran pagi dengan sikap dan perilaku mereka yang tentu kita sudah tau bagaimana. Tapi ini bukan masalah korupsi, bukan masalah century, bukan masalah daging sapi, bukan juga tentang renovasi kamar mandi, tapi ini tentang absensi.Ya, tentang absensi.
Jadi begini, dalam berita itu dijelaskan bahwa rata-rata absensi mereka kurang dari 60%, jika dalam perkuliahan absensi yang seperti itu akan membuat kita tidak bisa mengikuti ujian akhir, atau dengan kata lain kita akan mendapat nilai D, bahkan E. Absensi disini dihitung berdasarkan tingkat kehadiran mereka pada rapat yang membahas tentang undang-undang atau tugas mereka yang lain. Absensi yang demikian kecil itu tentu saja menggambarkan kinerja mereka yang buruk dalam menjalankan tugasnya. Dengan gaji dan tunjangan serta fasilitas mewah seharusnya mereka bisa mengemban tugasnya dengan sangat baik. Memang benar, absensi bukanlah satu-satunya indikator pengukur kinerja mereka, tetapi tanpa kehadiran tentu saja kinerja mereka tidak bisa diukur. Nah, untuk menindaklanjuti hal tersebut, badan kehormatan mereka, rencananya akan mengeluarkan daftar nama-nama mereka yang jarang atau tidak pernah hadir dalam rapat, dengan begitu pemilih akan tau siapa wakilnya yang sering membolos dan tidak layak bertahan di sana.
Tapi yang menimbulkan pertanyaan, apa mereka tidak meminta tolong pada kolega, teman, atau ajudan mereka untuk mengakali absensi? Kan mereka itu orang yang berkuasa dan kaya raya, tentu bukan hal yang sulit untuk menyuruh seseorang untuk mengisi absen sewaktu dia tidak bisa hadir dalam rapat. Bukankah dengan menyuruh orang maka nama baik mereka akan lebih baik dan tentu saja akan berpengaruh pada suara pemilih di 2014 mendatang?
Kita sering mendengar betapa tidak punya malunya mereka, meski sering dihujat berkali-kali, dijerat kasus korupsi setiap hari, tapi kenapa dalam masalah sepele seperti absensi mereka tidak berani. Apa mungkin masih ada sisa nurani?
Mungkin berita koran pagi itu berita buruk, tapi hal ini mengisyaratkan satu hal, dalam diri mereka (orang dalam berita pagi) masih tersisa rasa malu, rasa malu untuk tidak mengakali absensi. Ini penting, karena jika dalam hal kecil mereka masih punya nurani mungkin dalam hal-hal yang lebih besar mereka masih bisa sadar dan kembali.
Tapi yang paling aneh adalah di luar sana, benar-benar di luar sana, banyak orang biasanya mahasiswa, sering mencaci mereka tidak punya malu, mencaci mereka karena telah kehilangan nurani, mencaci mereka karena korupsi dan mencuri, tapi tidak sadar bahwa terkadang mereka sendiri dengan kesadaran diri dan tanpa rasa malu meminta teman untuk mengakali absensi demi rasa malas yang mereka alami. Bukankah hal-hal yang besar selalu berawal dari hal-hal yang kecil?
Jangan terlalu cepat berasumsi, jangan terlalu cepat membenci, pahami dan sadari.
Kita juga punya nih artikel mengenai 'Absensi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
BalasHapushttp://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/4312/1/11108719-%20PPT.pdf
Terimakasih, semoga bermanfaat :)