Selamat Malam,
Bahkan ketika kita sadar bahwa tidak ada yang bisa menjamin kestabilan teks, kita masih menulis. Mengapa? Karena dengan menulis kita telah menciptakan kehadirandiri, meski tak ada kuasa atasnya. Selama kita bisa menciptakan sarana untuk kehadirandiri, sebebas apapun sarana itu diartikan dan dimaknai, kita tetap berhasil menunjukkan bahwa kita Ada. Yang selalu saya bayangkan ketika ada orang yang membaca setiap tulisan dan mengartikan dengan caranya, adalah "kata dia..." atau "menurutnya..", disinilah letak pengakuan ke-Ada-an saya. Saya dilihat berbeda oleh mereka, yang berarti saya berhasil membedakan diri dengan mereka yang membacanya. Atau saya berhasil menciptakan keterpisahan saya, yang berarti, secara bersamaan saya telah menciptakan kehadirandiri saya dalam benak mereka. Dan saya bahagia atas itu.
Apa ini yang disebut sebagai "egoisme memiliki dan menikmati"?
Sekian
Terima Kasih
Selasa, 15 April 2014
Senin, 10 Maret 2014
Belajar Dari Gerakan Sosial Baru
Apakah ada hegemoni secara menyeluruh seperti kata Gramsci? Tidak, kata James Scott, seorang pengamat perlawanan petani Asia Tenggara. Dalam sebuah hegemoni selalu ada perlawanan, setidaknya itu yang terjadi di dalam perlawanan petani miskin yang terjadi di Sedaka, sebuah daerah di Malaysia. Perlawanan ini terjadi tidak dalam jumlah yang besar dan sekaligus (aksi kolektif), tetapi dalam tingkat yang kecil, berlangsung setiap hari dan terus-menerus. Perlawanan ini yang disebut oleh Scott sebagai everyday resistance. Perlawanan sehari-hari inilah yang disebut senjata kaum lemah. Fakta ini kemudian dijadikan sebagai kritik terhadap konsep hegemoni atau dominasi ideologi dari Gramsci. Mengapa? Karena Gramsci mengatakan bahwa dominasi ideologi akan menjamin terciptanya keteraturan sosial dan aparatur negara yang menindas menjadi layar dibaliknya. Kondisi ini meletakkan kelompok penguasa berada dalam posisi yang kuat dan diterima, dan segala tindakannya yang menindas diterima sebagai sebuah kewajaran. Hegemoni, dalam istilah Marcuse, memunculkan euphoria in unhappiness, yakni kebahagiaan dalam ketidakbahagiaan, atau perayaan atas ketidakbahagiaan, (Herbert Marcuse, 2002, hal. 7) atau menurut Joseph Femia adalah subordinasi moral dan intelektual. Dalam kondisi ini, masyarakat tidak akan mampu melakukan perlawanan terhadap hegemoni, karena masyarakat tidak sadar (dibuat tidak sadar), sehingga dibutuhkan kesadaran terlebih dulu untuk bergerak dan melawan. Ringkasnya, dalam logika Gramsci, pemerintahan yang kuat dan mendapat legitimasi masyarakat memunculkan sebuah kesadaran palsu di masyarakat, yang mana kesadaran palsu ini membatasi atau menghambat masyarakat untuk keluar dari dominasi ide yang dilakukan oleh penguasa, dan dalam pengertian ini Gramsci mengemukakan pentingnya intelektual organik, yang sadar mampu menyadarkan masyarakat dan membangkitkan kesadaran kritis. Kesadaran kritis ini ditentukan oleh ideologi yang dibawa oleh intelektual organik tadi. Dan ketika kesadaran kritis ini terbentuk dalam masyarakat, barulah ada aksi kolektif yang diharapkan mampu untuk melakukan perubahan sosial yang radikal. Aksi ini sering disebut sebagai gerakan sosial.
Namun, dalam kondisi di Sedaka, petani tidak perlu menunggu datangnya juru selamat-- sang intelektual organik--yang diharapkan mampu menyadarkan dirinya akan ketertindasannya. Menurut Scott, dalam konsep hegemoni Gramsci, terdapat lima hal yang kurang diperhatikan. Sayangnya, saya kurang bisa mengartikan secara baik lima hal tersebut dalam kaidah bahasa Indonesia, maka saya akan meringkasnya seperti ini.
Konsep hegemoni Gramsci abai dalam memperhatikan keberadaan kaum tertindas, terutama dalam hal pengalaman material yang melatarbelakangi ideologi yang sebelumnya mereka anut. Pengalaman material disini dapat berupa relasi ekonomi yang sebelumnya telah terbentuk antar masyarakat. Masuknya ideologi dominan, yang selanjutnya menjadi ideologi hegemon, secara tidak langsung menghancurkan relasi ekonomi ini. Namun, pada kenyataannya hadirnya ideologi hegemon tidak mampu--secara penuh--menghancurkan pengalaman-pengalaman material tersebut, karena jika dilihat secara historis masyarakat akan mempertahankan interpretasinya terhadap ideologi yang mereka anut sebelumnya, yang mana berbeda atau bahkan melawan ideologi baru yang dibentuk oleh elite dan/atau negara. (James C. Scott, 1985, hal. 317-8)
Penjelasan diatas yang kemudian mengakibatkan para petani di Sedaka melakukan perlawanan, tapi dalam bentuk-bentuk aksi non-koletif dan militan, seperti pencurian, pembakaran, dan bentuk-bentuk perlawanan lainnya, demi meningkatkan kondisi mereka. Namun, bagaimana mungkin aksi-aksi yang seperti ini mampu melepaskan mereka dari dominasi, jika aksi ini hanya mengandalkan keberanian dan spontanitas, tanpa ada sediktpun ruang untuk benar-benar secara terbuka berhadapan dengan aparatur yang menindas tadi? Jawabannya terletak pada arti dari perlawanan itu sendiri. Dalam kondisi normal, aktivitas melawan memiliki tujuan untuk menghancurkan dominasi, tetapi menurut saya, aktivitas melawan bukan melulu menghancurkan dominasi. Aktivitas melawan seharusnya mampu membangkitkan semangat melawan bagi yang lain. Aktivitas melawan harus mampu menciptakan kondisi revolusioner yang dapat mendukung revolusi radikal. Jadi kuncinya terletak pada kondisi yang harus mampu dia ciptakan, bukan sebanyak apa orang yang sadar dan mau untuk melawan.
Menurut James Petras dan Henry Veltmeyer, ada dua bentuk strategi aksi melawan kapitalisme, pertama aksi seperti para petani di Sedaka, melakukan perlawanan yang sifatnya non-kolektif yang berutujuan memperbaiki kondisi hidupnya, yang kedua membentuk sebuah aksi kolektif yang memungkinkan adanya gerakan sosial dan menghancurkan kapitalisme (Petras dan Veltmeyer, 2011, hal. 2). Aksi pertama lebih dikenal dengan sebutan new social movement. Jika kita lihat disini, dua aksi ini oleh Petras dan Veltmeyer sama-sama disebut sebagai aksi perlawanan. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa dua aksi yang dilakukan baik kolektif dan non-kolektif memiliki tujuan yang kurang lebih sama, menghilangkan dominasi atas dirinya. Kritik yang sering muncul atas new social movement ini adalah ketidakmampuannya dalam melingkupi keseluruhan masyarakat, terlalu mengawang-ngawang dan jauh dari realitas sosial, orientasinya yang terlalu menekankan identitas ketimbang ideologi, yang secara sarkastik disebut Petras dan Veltmeyer sebagai politik imaji posmodernis (ibid, hal. 80). Hal ini wajar, mengingat pentingnya pembahasan identitas seseorang muncul karena kapitalisme telah menghilangkan ikatan-ikatan tradisional yang membentuk identitas kelompok, sehingga seseorang kehilangan identitasnya, dan mengharuskannya mencari identitas baru. Dengan kata lain, semangat perjuangan mencari identitas individu bukan lagi perjuangan untuk melepaskan dominasi melainkan melanggengkan dominasi karena alih-alih menghancurkan belenggu kapitalisme yang menghilangkan identitas kelompok, mereka mencari bentuk identitas baru agar bisa hidup didalamnya.
Namun, jika kita kembali pada pembahasan gerakan sosial. Kita dapat melihat gerakan sosial baru telah mencapai tahap perlawanan yang jauh lebih maju dibanding dengan perjuangan gerakan kiri dalam agenda besar menghancurkan kapitalisme. Tak jarang gerakan sosial baru digunakan oleh aktivis gerakan kanan untuk menjalankan agendanya melanggengkan kapitalisme. Seperti yang terjadi di Ukraina protes kelompok ultra kanan
yang pro Uni Eropa, yang awalnya (hanya) menolak kebijakan negara yang
terlalu dekat dengan Rusia, menjadi perlawanan besar-besaran terhadap
konstitusi karena dianggap memberikan wewenang terlalu besar terhadap
Presiden. Hingga berakhir dengan jatuhnya presiden Ukraina. Atau yang
saat ini sedang terjadi di Venezuela, ketika kelompok ultra-kanan anti
revolusi bolivarian ala Chaves berusaha menciptakan kondisi revolusioner
dengan membawa isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, dan agenda
neoliberal lainnya. Atau yang sedikit lama, ketika pemerintahan sosialis Chile di masa Allende dijatuhkan secara sepihak oleh militer dibawah pimpinan Pinochet. Aksi-aksi diatas saya rasa tidak menunggu kesadaran dari seluruh masyarakat untuk mengetahui agenda, tujuan, dan maksud dari aksi perlawanan tersebut. Tetapi yang berusaha mereka ciptakan adalah kondisi yang mendukung semangat revolusioner dari tiap-tiap individu dalam masyarakat. Mereka berusaha membangkitkan kembali pengalaman material masyarakat sehingga seolah-olah ada kesamaan visi dalam perlawanan mereka, padahal sebaliknya. Inilah yang disebut oleh Indoprogress sebagai neopopulisme.
Kemudian dimana gerakan aktivis kiri? Saya rasa ada ketakuatan dari aktivis kiri untuk membangun sebuah gerakan yang spartan, yang gampang runtuh karena arus pasang. Aktivis gerakan kiri nampaknya sedang menyusun strategi yang benar-benar ciamik untuk meruntuhkan kapitalisme. Tapi sepertinya mereka lupa permainan sudah berjalan. (lupakan). Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil. Saya rasa dalam membangun sebuah gerakan, kita harus banyak belajar dari gerakan sosial baru tersebut. Bukan dari apa yang diperjuangkan tapi semangat yang berusaha dia salurkan. Semangat untuk terus melakukan perlawanan, dengan mengingatkan kembali pengalaman material yang ada dalam benak setiap individu. Dalam level mikro, ketrlibatan masyarakat dalam aksi protes (perlawanan) bukan ditentukan oleh proses ideologisasi atau kesadaran akan kepentingan politiknya, tetapi hasil dari keterikatan sosial dan kedekatan asosiasional yang dapat mempersiapkan mereka secara struktural mampu melakukan aksi tersebut. (Doug McAdam, dalam Enrique Larana, 1994, hal. 36-7). Keterikatan sosial dan kedekatan asosiasional ini ditunjukkan oleh petani di Sidaka dan banyak aksi-aksi gerakan sosial baru di dunia. Contoh gerakan sosial baru yang menurut saya berhasil adalah protes pengguna telepon di Argentina. Aksi ini kemudian menjadi penting untuk diamati karena dalam proses perlawanannya, yang mulanya hanya dilakukan oleh kelas menengah perkotaan berhasil "menghasut" masyarakat Argentina untuk melakukan perlawanan terhadap agenda-agenda neoliberalisme di Argentina (lihat Sybil Rhodes, 2006) . Meskipun aksi ini tidak lepas dari krtitik, seperti kontinuitas perlawanan yang kemudian berakhir ketika harga telepon rendah, tanap melanjutkan agenda politik yang lebih besar. Terlepas dari hal tersebut, yang bisa kita cermati adalah kemampuannya untuk menciptakan sebuah keterikatan sosial di dalam masyarakat. Inilah yang tidak ada dalam aksi-aksi gerakan kiri. Menurut Marcuse semangat revolusioner (kondisi revolusioner) akan muncul ketika praktik-praktik politik berhasil mengubah masyarakat (Herbert Marcuse, 1969, hal. 79). Disinilah everyday resistance hadir sebagai praktik politik keseharian yang mampu mengubah masyarakat dan menciptakan kondisi revolusioner yang dikatakn Marcuse.
Referensi
H. Marcuse,
One-Dimensional Man: Studies in The
Ideology of Advance Industrial Society, Routledge, New York, 2002,
------------, An Essay on Liberation, Beacon Press, Boston, 1969,
J. Petras dan H. Veltmeyer, Social Movements in Latin America: Neo-liberalism and Popular
Resistance, Palgrave Macmillan, New York, 2011,
S. Rhodes, Social Movement and Free-Market Capitalism
in Latin America: Telecommunications Privatization and The Rise of Consumer
Protest, State University of New York Press, New York, 2006,
D. McAdam, "Culture an Social Movement", dalam E. Larana, H. Johnston, dan J.R. Gusfield, New Social Movement: From Ideology to Identity, Temple University Press, Philadelpia, 1994,
J. C. Scott, Weapons of the Weak Everyday Forms of Peasant Resistance, Yale University Press, New Heaven, 1985,
C. H. Pontoh, Neopopulisme, editorial Indoprogress, 3 Maret 2014, diakses dari <http://indoprogress.com/2014/03/neopopulisme/> diakses pada 10 Maret 2014
Minggu, 22 Desember 2013
Pemaknaan Silang Kemenangan dan Kekalahan: Sebuah Pemikiran
Dalam setiap pertempuran selalu ada yang menang dan selalu ada yang kalah, dan masing-masing didalamnya tersimpan makna. Makna yang hanya bisa diterima dan dimaknai oleh yang mengalami. Si Kalah akan menerima makna dan memaknai kekalahannya, dan Si Menang akan menerima makna dan memaknai kemenangannya. Namun, dalam beberapa kejadian, atau banyak sekali kejadian, seringkali Si Menang tidak hanya memaknai kemenangannya, tetapi juga akan memaknai kekalahan Si Kalah dan demikian pula sebaliknya--saya namakan ini pemaknaan silang. Fenomena pemaknaan silang ini, menurut saya, adalah sebuah kekeliruan yang besar, karena memaknai sesuatu yang tidak kita alami akan menggiring kita pada sesat makna, seperti kita menilai sebuah pensil dari pengalaman kita melihat sebuah ballpoint atau buku gambar. Dalam konteks kejadian, kita memaknai makan setelah kita buang air (contoh-contoh ini sebenarnya juga menyesatkan).
Kembali ke Si Menang (SM) dan Si Kalah (SK). Ketika SM memaknai peristiwa yang dialami SK, akan memicu pemaknaan dimana SK akan menilai kekalahan SM dari kemenangannya. Dengan kata lain, akan muncul penafsiran seperti, "dia kalah karena dia lalai untuk...", "dia kalah karena dulu dia...", dan yang paling populer sekarang adalah "dia gagal karena dia mewakili golongan tertentu". Dengan kata lain pemaknaan yang dilakukan adalah perbandingan atas keberhasilannya, atau apa yang kita lakukan dan dia yang tidak lakukan. Coba cermati, penafsiran pertama sebenarnya pembanding atas dengan, "kita menang karena kita berhasil untuk...", kedua sebenarnya "kita menang karena kita dulu...", dan terakhir "kita menang karena kita tidak mewakili golongan terntentu". Pemaknaan sesat ini berlaku pula sebaliknya.
Agar tulisan ini lebih bisa dimengerti, mari kita arahkan denganbeberapa pertanyaan berikut,
pertama, mengapa pemaknaan silang bisa memicu sesat makna?
Pemaknaan silang bisa memicu sesat makna karena pertimbangan yang dilakukan untuk memaknai sebuah kejadian hanya dilakukan dari satu sisi, mengapa? karena sisi yang lain belum pernah dialami. Sangat tidak mungkin kita mempertimbangkan membeli jeruk jika kita tidak pernah melihat dan mengetahui jeruk. Dalam kasus menang dan kalah, SM tidak pernah mengalami kondisi yang dialami SK. Mungkin memang, kasus menang kalah memang sering terjadi, tetapi keadaan dimana kita menang dan kalah tidak pernah sama. Jadi sangat mustahil untuk secara penuh mengetahui mengapa dia menang dan mengapa dia kalah di suatu waktu.
Kedua, bagaimana pemaknaan seharusnya dilakukan?
Pemaknaan seharusny dilakukan berdasarkan kejadian yang sudah dialami oleh diri sendiri. Dengan kata lain, sebelum melakukan pemaknaan terhadap orang lain yang harus dipertimbangkan lebih dahulu apakah kita pernah mengalami kejadian tersebut dalam keadaan yang sama persis dengan keadaan yang dialami oleh orang itu. Jika kembali dengan kejadian menang dan kalah, apakah SM sebelumnya pernah mengalami kekalahan dengan posisi seperti SK saat dia kalah saat ini. Jika belum, jauhi pemaknaan atasnya.
Ketiga, apakah ini berarti pemaknaan atas orang lain dan kejadian yang dia alami tidak boleh dilakukan?
Tidak, pemaknaan atas orang lain dan kejadian atasnya boleh dilakukan, tapi tetap pertimbangkan apakah pemaknaan yang akan (atau sudah) dilakukan telah mempertimbangkan sisi lain, atau telah memenuhi jawaban dari pertanyaan kedua. Jika tidak, alangkah lebih baik tidak dilakukan.
Dari semua penjabaran diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pemaknaan silang itu jelek. Dan berbagai istilah yang saya perkenalkan diatas hanya untuk kejadian SM dan SK. untuk kejadian lain belum saya coba dan pikirkan. Jika anda ingin melakukannya, silahkan.
Kembali ke Si Menang (SM) dan Si Kalah (SK). Ketika SM memaknai peristiwa yang dialami SK, akan memicu pemaknaan dimana SK akan menilai kekalahan SM dari kemenangannya. Dengan kata lain, akan muncul penafsiran seperti, "dia kalah karena dia lalai untuk...", "dia kalah karena dulu dia...", dan yang paling populer sekarang adalah "dia gagal karena dia mewakili golongan tertentu". Dengan kata lain pemaknaan yang dilakukan adalah perbandingan atas keberhasilannya, atau apa yang kita lakukan dan dia yang tidak lakukan. Coba cermati, penafsiran pertama sebenarnya pembanding atas dengan, "kita menang karena kita berhasil untuk...", kedua sebenarnya "kita menang karena kita dulu...", dan terakhir "kita menang karena kita tidak mewakili golongan terntentu". Pemaknaan sesat ini berlaku pula sebaliknya.
Agar tulisan ini lebih bisa dimengerti, mari kita arahkan denganbeberapa pertanyaan berikut,
pertama, mengapa pemaknaan silang bisa memicu sesat makna?
Pemaknaan silang bisa memicu sesat makna karena pertimbangan yang dilakukan untuk memaknai sebuah kejadian hanya dilakukan dari satu sisi, mengapa? karena sisi yang lain belum pernah dialami. Sangat tidak mungkin kita mempertimbangkan membeli jeruk jika kita tidak pernah melihat dan mengetahui jeruk. Dalam kasus menang dan kalah, SM tidak pernah mengalami kondisi yang dialami SK. Mungkin memang, kasus menang kalah memang sering terjadi, tetapi keadaan dimana kita menang dan kalah tidak pernah sama. Jadi sangat mustahil untuk secara penuh mengetahui mengapa dia menang dan mengapa dia kalah di suatu waktu.
Kedua, bagaimana pemaknaan seharusnya dilakukan?
Pemaknaan seharusny dilakukan berdasarkan kejadian yang sudah dialami oleh diri sendiri. Dengan kata lain, sebelum melakukan pemaknaan terhadap orang lain yang harus dipertimbangkan lebih dahulu apakah kita pernah mengalami kejadian tersebut dalam keadaan yang sama persis dengan keadaan yang dialami oleh orang itu. Jika kembali dengan kejadian menang dan kalah, apakah SM sebelumnya pernah mengalami kekalahan dengan posisi seperti SK saat dia kalah saat ini. Jika belum, jauhi pemaknaan atasnya.
Ketiga, apakah ini berarti pemaknaan atas orang lain dan kejadian yang dia alami tidak boleh dilakukan?
Tidak, pemaknaan atas orang lain dan kejadian atasnya boleh dilakukan, tapi tetap pertimbangkan apakah pemaknaan yang akan (atau sudah) dilakukan telah mempertimbangkan sisi lain, atau telah memenuhi jawaban dari pertanyaan kedua. Jika tidak, alangkah lebih baik tidak dilakukan.
Dari semua penjabaran diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pemaknaan silang itu jelek. Dan berbagai istilah yang saya perkenalkan diatas hanya untuk kejadian SM dan SK. untuk kejadian lain belum saya coba dan pikirkan. Jika anda ingin melakukannya, silahkan.
Untuk Karya yang Tidak Lagi (bisa) Dibaca
Manusia lahir, menjadi batita kemudian merangkak, menjadi balita kemudian berjalan, menjadi remaja kemudian berlari. Dalam setiap tahap pertumbuhan ada perkembangan, dan dalam setiap perkembangan mengisyaratkan adanya perubahan. Tapi perubahan yang terjadi tidak mengaharuskan dan bahkan tidak mungkin adanya penghapusan atau penghilangan perkembangan yang sudah dijalani. Mudahnya, balita yang sudah bisa berjalan tidak mungkin kehilangan kemampuannya untuk merangkak dan tidak mungkin menghilangkan (sengaja) kemampuannya untuk merangkak, remaja yang sudah bisa berlari, pun demikian. Dia tidak mungkin kehilangan dan menghilangkan kemampuannya untuk berjalan dan merangkak. Meskipun dalam benaknya pasti memperhitungkan kemampuannya untuk berlari jika berlari dan berjalan sama-sama diperlukan untuk mengejar sesuatu. Dari sini dapat disimpulkan,tiga hal penting: (1) tumbuh mengisyratkan pertambahan pada sesuatu yang bisa dihitung dan
diperkirakan, sedangkan berkembang adalah pertambahan sesuatu yang tidak
dapat dihitung secara matematis, abstrak, tetapi bisa dilihat dan dirasakan, (2) manusia akan tumbuh dan secara bersamaan dia akan berkembang dan mustahil dia berkembang tanpa tumbuh, seperti bayi yang baru tumbuh hingga usia 2 tahun kemudian memaksa berlari, (3) dan, mustahil untuk orang yang berusaha menghilangkan dan kehilangan hasil dari dia tumbuh dan berkembang, kecuali orang itu kecelakaan lalu lumpuh atau lupa ingatan.
Dari metafora manusia itu, mari kita ubah pembahasan yang menarik ini pada kapasitas keilmuan manusia. Untuk membuktikan dua hal penting dari tiga hal penting tersebut dalam kapasitas keilmuan manusia mari kita contohkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kapsitas diri manusia. Buku misalnya, semakin banyak buku yang dibaca maka dapat dikatakan dia sedang dalam proses pertumbuhan. Dalam proses tumbuh ini manusia akan berkembang, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak ilmu, semakin banyak ilmu semakin tinggi kadar keilmuan seseorang, dan mustahil bagi orang yang sedikit membaca atau tidak bisa membaca dikatakan berilmu tinggi. Selain buku adalah pengalaman, manusia berkembang dengan pengalaman (disini saya menghindari premis "pengalaman bertambah dengan membaca buku" atau "pengalaman membaca buku"). Pengalaman adalah situasi yang pernah dihadapi oleh seorang individu, biasanya pengalaman berbanding lurus dengan usia. Alasannya, orang berusia 22 tahun lebih lama hidup dibanding orang dengan usia 19 tahun, dan orang yang berusia 19 tahun peluangnya, untuk mencapai usia 22 tahun, sama besarnya dengan peluang orang berusia 22 tahun untuk mati. Gampangnya, tidak ada yang bisa memberi kepastian apakah orang berusia 19 tahun bisa hidup sampai berusia 22 tahun. Dengan berdasar pada asumsi tersebut, dapat ditarik kesimpulan orang dengan usia 19 tahun tidak lebih berpengalaman daripada orang berusia 22 tahun karena orang berusia 22 tahun telah menjalani masa tumbuh 3 tahun lebih lama daripada orang berusia 19 tahun, dan dengan demikian ia memiliki perkembangan 3 tahun lebih banyak.
Hal yang penting ketiga, yang sebenarnya berusaha saya jadikan bahan pembahasan utama, adalah kemustahilan seseorang untuk menghilangkan hasil dari tumbuh dan berkembang. Hasil dari orang yang sudah tumbuh dan berkembang adalah karya. Karya wujudnya bermacam-macam, tulisan, lukisan, pahatan, tindakan, pemikiran (biasanya dituangkan dalam tulisan), dan dalam pembicaraan yang lebih serius, karya-karya tadi biasanya menjadi bukti dari sebuah peradaban. Titik dimana manusia menghasilkan karya adalah titik pembuktian bahwa manusia atau individu telah selesai di salah satu tahap tumbuh dan berkembangnya. Kemustahilan terjadi ketika individu tersebut berusaha menghilangkan karyanya dengan menghapus tulisannya, membakar lukisannya, atau menyesali perbuatannya, biasanya dengan alasan tidak puas. Kenyataannya adalah manusia akan terus tumbuh dan berkembang, itu berarti manusia akan terus menambah kapasitas keilmuannya, dan adalah wajar ketika ada ketidakpuasaan atas karya yang tidak lain adalah hasil dari proses tumbuh dan berkembang. Namun, penilaian dari sebuah karya harusnya dilakukan tidak hanya atau lebih tepatnya tidak mungkin oleh diri sendiri, tetapi oleh orang lain. Mengapa tidak mungkin? karena manusia akan terus tumbuh dan berkembang dan akan terus tidak puas, dan ketidakpuasan ini seringkali bukan menjadi bahan untuk terus tumbuh dan berkembang tetapi menjadi bahan untuk meratapi dan merendahkan diri sendiri.
Dalam lingkup tulisan, di era modern ini, dimana orang telah meninggalkan batu tulis dan daun lontar sebagai media penulisan dan beralih pada blog dan berbagai media elektronik lainnya, hasil karya tidak lagi dibakar, tetapi dihapus atau mungkin disembunyikan. Saya pribadi adalah orang yang sering menyesalkan hal itu. Karena dengan menghapus atau menyembunyikan tulisan, maka penilaian hanya akan didasarkan pada diri sendiri, dan menurut saya ini tidak sehat dan memicu seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Selain itu, menghapus sebuah tulisan atau menyembunyikannya membuat kita menghalangi orang lain untuk tumbuh dan berkembang karena seolah kita membatasi orang tersebut untuk belajar dari pengalaman dan buku yang sudah kita baca. Jadi bukankah lebih baik membiarkan sebuah karya itu tetap ada dan biarkan orang lain menjadi penilai sekaligus murid bagi tahap yang sudah kita lalui ?
Dari metafora manusia itu, mari kita ubah pembahasan yang menarik ini pada kapasitas keilmuan manusia. Untuk membuktikan dua hal penting dari tiga hal penting tersebut dalam kapasitas keilmuan manusia mari kita contohkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kapsitas diri manusia. Buku misalnya, semakin banyak buku yang dibaca maka dapat dikatakan dia sedang dalam proses pertumbuhan. Dalam proses tumbuh ini manusia akan berkembang, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak ilmu, semakin banyak ilmu semakin tinggi kadar keilmuan seseorang, dan mustahil bagi orang yang sedikit membaca atau tidak bisa membaca dikatakan berilmu tinggi. Selain buku adalah pengalaman, manusia berkembang dengan pengalaman (disini saya menghindari premis "pengalaman bertambah dengan membaca buku" atau "pengalaman membaca buku"). Pengalaman adalah situasi yang pernah dihadapi oleh seorang individu, biasanya pengalaman berbanding lurus dengan usia. Alasannya, orang berusia 22 tahun lebih lama hidup dibanding orang dengan usia 19 tahun, dan orang yang berusia 19 tahun peluangnya, untuk mencapai usia 22 tahun, sama besarnya dengan peluang orang berusia 22 tahun untuk mati. Gampangnya, tidak ada yang bisa memberi kepastian apakah orang berusia 19 tahun bisa hidup sampai berusia 22 tahun. Dengan berdasar pada asumsi tersebut, dapat ditarik kesimpulan orang dengan usia 19 tahun tidak lebih berpengalaman daripada orang berusia 22 tahun karena orang berusia 22 tahun telah menjalani masa tumbuh 3 tahun lebih lama daripada orang berusia 19 tahun, dan dengan demikian ia memiliki perkembangan 3 tahun lebih banyak.
Hal yang penting ketiga, yang sebenarnya berusaha saya jadikan bahan pembahasan utama, adalah kemustahilan seseorang untuk menghilangkan hasil dari tumbuh dan berkembang. Hasil dari orang yang sudah tumbuh dan berkembang adalah karya. Karya wujudnya bermacam-macam, tulisan, lukisan, pahatan, tindakan, pemikiran (biasanya dituangkan dalam tulisan), dan dalam pembicaraan yang lebih serius, karya-karya tadi biasanya menjadi bukti dari sebuah peradaban. Titik dimana manusia menghasilkan karya adalah titik pembuktian bahwa manusia atau individu telah selesai di salah satu tahap tumbuh dan berkembangnya. Kemustahilan terjadi ketika individu tersebut berusaha menghilangkan karyanya dengan menghapus tulisannya, membakar lukisannya, atau menyesali perbuatannya, biasanya dengan alasan tidak puas. Kenyataannya adalah manusia akan terus tumbuh dan berkembang, itu berarti manusia akan terus menambah kapasitas keilmuannya, dan adalah wajar ketika ada ketidakpuasaan atas karya yang tidak lain adalah hasil dari proses tumbuh dan berkembang. Namun, penilaian dari sebuah karya harusnya dilakukan tidak hanya atau lebih tepatnya tidak mungkin oleh diri sendiri, tetapi oleh orang lain. Mengapa tidak mungkin? karena manusia akan terus tumbuh dan berkembang dan akan terus tidak puas, dan ketidakpuasan ini seringkali bukan menjadi bahan untuk terus tumbuh dan berkembang tetapi menjadi bahan untuk meratapi dan merendahkan diri sendiri.
Dalam lingkup tulisan, di era modern ini, dimana orang telah meninggalkan batu tulis dan daun lontar sebagai media penulisan dan beralih pada blog dan berbagai media elektronik lainnya, hasil karya tidak lagi dibakar, tetapi dihapus atau mungkin disembunyikan. Saya pribadi adalah orang yang sering menyesalkan hal itu. Karena dengan menghapus atau menyembunyikan tulisan, maka penilaian hanya akan didasarkan pada diri sendiri, dan menurut saya ini tidak sehat dan memicu seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Selain itu, menghapus sebuah tulisan atau menyembunyikannya membuat kita menghalangi orang lain untuk tumbuh dan berkembang karena seolah kita membatasi orang tersebut untuk belajar dari pengalaman dan buku yang sudah kita baca. Jadi bukankah lebih baik membiarkan sebuah karya itu tetap ada dan biarkan orang lain menjadi penilai sekaligus murid bagi tahap yang sudah kita lalui ?
Minggu, 15 Desember 2013
Panduan Memilih untuk Pemula
Politik
kampus Universitas Gadjah Mada sedang bergeliat. Pemilihan Raya Mahasiswa
(Pemira) sedang berjalan. Banyak poster, baliho, spanduk bertebaran
dimana-mana; di pertigaan, di perempatan, di bundaran, di setiap sudut kampus
ada poster yang memajang wajah-wajah calon senat dan presiden mahasiswa UGM.
Wajah-wajah tersenyum dengan jargon masing-masing, ada yang bilang ingin
mengembalikan kedaulatan kampus kerakyatan, ada yang bilang sebagai ajang
berkreasi, ada juga yang bilang mereka anti golongan tertentu. Intinya
calon-calon itu ingin dipilih dan ditempatkan sebagai perwakilan mahasiswa atau
lebih dikenal dengan nama senat mahasiswa.
UGM
memang salah satu universitas yang mengadaptasi bentuk pemilihan umum seperti
sebuah negara; ada partai, calon senat (DPR), dan presiden. Sistem ini dalam
beberapa hal mampu mengurangi masuknya kepentingan-kepentingan dan dominasi
kelompok pergerakan tertentu (HMI, PMII, GMNI, dll) kedalam lembaga tertinggi
mahasiswa, BEM KM UGM, sehingga stabilitas himpunan mahasiswa dapat terjaga
hingga akhir periode. Namun, disisi lain, sistem seperti ini tidak mampu
memberikan jaminan kualitas yang cukup baik pada calon-calon senat yang
nantinya terpilih. Sehingga muncul pertanyaan terkait indikator apa yang dapat
digunakan untuk menilai sebuah partai kampus dapat dipilih dan kualitas
calonnya dapat dipercaya. Menurut saya, setidaknya ada tiga indikator untuk
melihat hal tersebut:
1. Sistem
rekruitmen. Mari kita ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan
yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Maka bukankah penting
bagi kita melihat siapa saja yang akan menggerakkan roda-roda partai ini agar
berjalan sesuai dengan tujuan luhur itu? Bagaimana dia bisa menjadi perwakilan
kita di sebuah partai? Kemudian bayangkan, secara tiba-tiba dan sekejab mata
muncul orang yang mungkin dipilih secara acak dengan senyum asing dan tidak
dikenal datang sambil berkata, “saya akan mewakili anda sebagai kepanjangan
lidah anda nanti.” Apa kita akan percaya?
2. Eksistensi
partai. Mari sekali lagi ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan
yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Kita ibaratkan juga,
calon-calon hasil undian tadi harus kita pilih. Bukankah peran partai dalam
politik kampus dan dinamika kehidupan kemahasiswaan pada tahun-tahun yang lalu
menjadi sangat penting. Lalu bayangkan,
partai-partai dengan nama, jargon yang aneh dan tidak meyakinkan datang hanya
setiap tahun sekali lalu bilang, “pilih kami, karena kami ingin mengembalikan
kampus kerakyatan, kami paling disayang mama, kami paling dominan, kami paling
sangar, kami paling bla, bla, bla,” apa kita akan percaya tahi kucing macam
itu?
3. Struktur
organisasi partai. Mari sekali lagi dan lagi kita ibaratkan semua partai kampus
itu berdiri untuk tujuan yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan
tinggi—maaf jika anda mulai muak dengan ini. Bukankah menjadi penting untuk
melihat siapa yang bertanggung jawab nanti, siapa yang dapat memberikan
pertanggungjawaban nanti ketika amanat diselewengkan, atau paling tidak siapa
yang bisa disalahkan dan dijelek-jelekkan nanti ketika partai itu salah
langkah. Kemudian bayangkan ketika kita sangat butuh penjelasan dari partai, yang
ada orang-orang dengan senyum menjijikkan dan tidak dikenal tadi, datang sambil
berkata lagi, “saya hanya ikut-ikutan.”
Pada
titik ini mari kita simpulkan bahwa partai yang tidak memenuhi tiga indikator
ini secara benar adalah partai abal-abal yang hanya ingin haus kekuasaan dan
calonnya adalah calon yang haus akan riwayat organisasi di CV (buat kerja
nanti). Sedangkan partai yang mampu membangun sistem rekruitmen yang baik,
struktur organisasi yang jelas, dan kemunculan partainya tidak hanya saat
pemira adalah partai yang kompeten untuk dipilih. Pertanyaannya kembali pada
anda. Apakah anda sudah yakin partai atau calon yang anda dukung dan akan anda
pilih sudah menjalankan tiga indikator tadi? Jika belum, saya tidak menyarankan
anda untuk tidak memilih atau ikut-ikutan memilih karena diajak teman, sahabat,
dan handai taulan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya terkait partai kampus
dan yakinkan diri anda.
Namun,
tiga indikator tadi bukan merupakan hal yang mutlak, jika ada pertimbangan
lain, seperti kedekatan dengan calon senat atau presma atau mengetahui derajat
keilmuan dan intelektualitas calon senat, maka kombinasikan tiga indikator ini
dengan pertimbangan tadi, atau gunakan salah satunya. Sekali lagi, sangat tidak
disarankan untuk tidak memilih pada Pemira nanti. Sebagi warga universitas yang
baik mari kita sukseskan Pemira tahun ini dengan datang ke tempat pemilihan
umum, meskipun dengan menyobek kertas suara atau meludahi lalu melipatnya lagi
(sangat tidak disarankan).
Bagi
anda yang merasa calon senat dan tersakiti hatinya dengan tulisan ini dan
merasa anda cukup dikenal dan berkualitas, silahkan tulis balasan anda. Mari
budayakan membalas kritik dengan tulisan bukan dengan cemoohan. Terima Kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)