Minggu, 22 Desember 2013

Untuk Karya yang Tidak Lagi (bisa) Dibaca

Manusia lahir, menjadi batita kemudian merangkak, menjadi balita kemudian berjalan, menjadi remaja kemudian berlari. Dalam setiap tahap pertumbuhan ada perkembangan, dan dalam setiap perkembangan mengisyaratkan adanya perubahan. Tapi perubahan yang terjadi tidak mengaharuskan dan bahkan tidak mungkin adanya penghapusan atau penghilangan perkembangan yang sudah dijalani. Mudahnya, balita yang sudah bisa berjalan tidak mungkin kehilangan kemampuannya untuk merangkak dan tidak mungkin menghilangkan (sengaja) kemampuannya untuk merangkak, remaja yang sudah bisa berlari, pun demikian. Dia tidak mungkin kehilangan dan menghilangkan kemampuannya untuk berjalan dan merangkak. Meskipun dalam benaknya pasti memperhitungkan kemampuannya untuk berlari jika berlari dan berjalan sama-sama diperlukan untuk mengejar sesuatu. Dari sini dapat disimpulkan,tiga hal penting: (1) tumbuh mengisyratkan pertambahan pada sesuatu yang bisa dihitung dan diperkirakan, sedangkan berkembang adalah pertambahan sesuatu yang tidak dapat dihitung secara matematis, abstrak, tetapi bisa dilihat dan dirasakan, (2) manusia akan tumbuh dan secara bersamaan dia akan berkembang dan mustahil dia berkembang tanpa tumbuh, seperti bayi yang baru tumbuh hingga usia 2 tahun kemudian memaksa berlari, (3) dan, mustahil untuk orang yang berusaha menghilangkan dan kehilangan hasil dari dia tumbuh dan berkembang, kecuali orang itu kecelakaan lalu lumpuh atau lupa ingatan.

Dari metafora manusia itu, mari kita ubah pembahasan yang menarik ini pada kapasitas keilmuan manusia. Untuk membuktikan dua hal penting dari tiga hal penting tersebut dalam kapasitas keilmuan manusia mari kita contohkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kapsitas diri manusia. Buku misalnya, semakin banyak buku yang dibaca maka dapat dikatakan dia sedang dalam proses pertumbuhan. Dalam proses tumbuh ini manusia akan berkembang, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak ilmu, semakin banyak ilmu semakin tinggi kadar keilmuan seseorang, dan mustahil bagi orang yang sedikit membaca atau tidak bisa membaca dikatakan berilmu tinggi. Selain buku adalah pengalaman, manusia berkembang dengan pengalaman (disini saya menghindari premis "pengalaman bertambah dengan membaca buku" atau "pengalaman membaca buku"). Pengalaman adalah situasi yang pernah dihadapi oleh seorang individu, biasanya pengalaman berbanding lurus dengan usia. Alasannya, orang berusia 22 tahun lebih lama hidup dibanding orang dengan usia 19 tahun, dan orang yang berusia 19 tahun peluangnya, untuk mencapai usia 22 tahun, sama besarnya dengan peluang orang berusia 22 tahun untuk mati. Gampangnya, tidak ada yang bisa memberi kepastian apakah orang berusia 19 tahun bisa hidup sampai berusia 22 tahun. Dengan berdasar pada asumsi tersebut, dapat ditarik kesimpulan orang dengan usia 19 tahun tidak lebih berpengalaman daripada orang berusia 22 tahun karena orang berusia 22 tahun telah menjalani masa tumbuh 3 tahun lebih lama daripada orang berusia 19 tahun, dan dengan demikian ia memiliki perkembangan 3 tahun lebih banyak.

Hal yang penting ketiga, yang sebenarnya berusaha saya jadikan bahan  pembahasan utama, adalah kemustahilan seseorang untuk menghilangkan hasil dari tumbuh dan berkembang. Hasil dari orang yang sudah tumbuh dan berkembang adalah karya. Karya wujudnya bermacam-macam, tulisan, lukisan, pahatan, tindakan, pemikiran (biasanya dituangkan dalam tulisan), dan dalam pembicaraan yang lebih serius, karya-karya tadi biasanya menjadi bukti dari sebuah peradaban. Titik dimana manusia menghasilkan karya adalah titik pembuktian bahwa manusia atau individu telah selesai di salah satu tahap tumbuh dan berkembangnya. Kemustahilan terjadi ketika individu tersebut berusaha menghilangkan karyanya dengan menghapus tulisannya, membakar lukisannya, atau menyesali perbuatannya, biasanya dengan alasan tidak puas. Kenyataannya adalah manusia akan terus tumbuh dan berkembang, itu berarti manusia akan terus menambah kapasitas keilmuannya, dan adalah wajar ketika ada ketidakpuasaan atas karya yang tidak lain adalah hasil dari proses tumbuh dan berkembang. Namun, penilaian dari sebuah karya harusnya dilakukan tidak hanya atau lebih tepatnya tidak mungkin oleh diri sendiri, tetapi oleh orang lain. Mengapa tidak mungkin? karena manusia akan terus tumbuh dan berkembang dan akan terus tidak puas, dan ketidakpuasan ini seringkali bukan menjadi bahan untuk terus tumbuh dan berkembang tetapi menjadi bahan untuk meratapi dan merendahkan diri sendiri.

Dalam lingkup tulisan, di era modern ini, dimana orang telah meninggalkan batu tulis dan daun lontar sebagai media penulisan dan beralih pada blog dan berbagai media elektronik lainnya, hasil karya tidak lagi dibakar, tetapi dihapus atau mungkin disembunyikan. Saya pribadi adalah orang yang sering menyesalkan hal itu. Karena dengan menghapus atau menyembunyikan tulisan, maka penilaian hanya akan didasarkan pada diri sendiri, dan menurut saya ini tidak sehat dan memicu seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Selain itu, menghapus sebuah tulisan atau menyembunyikannya membuat kita menghalangi orang lain untuk tumbuh dan berkembang karena seolah kita membatasi orang tersebut untuk belajar dari pengalaman dan buku yang sudah kita baca. Jadi bukankah lebih baik membiarkan sebuah karya itu tetap ada dan biarkan orang lain menjadi penilai sekaligus murid bagi tahap yang sudah kita lalui ?








Tidak ada komentar:

Posting Komentar