Minggu, 15 Desember 2013

Panduan Memilih untuk Pemula



Politik kampus Universitas Gadjah Mada sedang bergeliat. Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) sedang berjalan. Banyak poster, baliho, spanduk bertebaran dimana-mana; di pertigaan, di perempatan, di bundaran, di setiap sudut kampus ada poster yang memajang wajah-wajah calon senat dan presiden mahasiswa UGM. Wajah-wajah tersenyum dengan jargon masing-masing, ada yang bilang ingin mengembalikan kedaulatan kampus kerakyatan, ada yang bilang sebagai ajang berkreasi, ada juga yang bilang mereka anti golongan tertentu. Intinya calon-calon itu ingin dipilih dan ditempatkan sebagai perwakilan mahasiswa atau lebih dikenal dengan nama senat mahasiswa.
UGM memang salah satu universitas yang mengadaptasi bentuk pemilihan umum seperti sebuah negara; ada partai, calon senat (DPR), dan presiden. Sistem ini dalam beberapa hal mampu mengurangi masuknya kepentingan-kepentingan dan dominasi kelompok pergerakan tertentu (HMI, PMII, GMNI, dll) kedalam lembaga tertinggi mahasiswa, BEM KM UGM, sehingga stabilitas himpunan mahasiswa dapat terjaga hingga akhir periode. Namun, disisi lain, sistem seperti ini tidak mampu memberikan jaminan kualitas yang cukup baik pada calon-calon senat yang nantinya terpilih. Sehingga muncul pertanyaan terkait indikator apa yang dapat digunakan untuk menilai sebuah partai kampus dapat dipilih dan kualitas calonnya dapat dipercaya. Menurut saya, setidaknya ada tiga indikator untuk melihat hal tersebut:
1.   Sistem rekruitmen. Mari kita ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Maka bukankah penting bagi kita melihat siapa saja yang akan menggerakkan roda-roda partai ini agar berjalan sesuai dengan tujuan luhur itu? Bagaimana dia bisa menjadi perwakilan kita di sebuah partai? Kemudian bayangkan, secara tiba-tiba dan sekejab mata muncul orang yang mungkin dipilih secara acak dengan senyum asing dan tidak dikenal datang sambil berkata, “saya akan mewakili anda sebagai kepanjangan lidah anda nanti.” Apa kita akan percaya?
2.      Eksistensi partai. Mari sekali lagi ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Kita ibaratkan juga, calon-calon hasil undian tadi harus kita pilih. Bukankah peran partai dalam politik kampus dan dinamika kehidupan kemahasiswaan pada tahun-tahun yang lalu menjadi sangat penting.  Lalu bayangkan, partai-partai dengan nama, jargon yang aneh dan tidak meyakinkan datang hanya setiap tahun sekali lalu bilang, “pilih kami, karena kami ingin mengembalikan kampus kerakyatan, kami paling disayang mama, kami paling dominan, kami paling sangar, kami paling bla, bla, bla,” apa kita akan percaya tahi kucing macam itu?
3.      Struktur organisasi partai. Mari sekali lagi dan lagi kita ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi—maaf jika anda mulai muak dengan ini. Bukankah menjadi penting untuk melihat siapa yang bertanggung jawab nanti, siapa yang dapat memberikan pertanggungjawaban nanti ketika amanat diselewengkan, atau paling tidak siapa yang bisa disalahkan dan dijelek-jelekkan nanti ketika partai itu salah langkah. Kemudian bayangkan ketika kita sangat butuh penjelasan dari partai, yang ada orang-orang dengan senyum menjijikkan dan tidak dikenal tadi, datang sambil berkata lagi, “saya hanya ikut-ikutan.”
Pada titik ini mari kita simpulkan bahwa partai yang tidak memenuhi tiga indikator ini secara benar adalah partai abal-abal yang hanya ingin haus kekuasaan dan calonnya adalah calon yang haus akan riwayat organisasi di CV (buat kerja nanti). Sedangkan partai yang mampu membangun sistem rekruitmen yang baik, struktur organisasi yang jelas, dan kemunculan partainya tidak hanya saat pemira adalah partai yang kompeten untuk dipilih. Pertanyaannya kembali pada anda. Apakah anda sudah yakin partai atau calon yang anda dukung dan akan anda pilih sudah menjalankan tiga indikator tadi? Jika belum, saya tidak menyarankan anda untuk tidak memilih atau ikut-ikutan memilih karena diajak teman, sahabat, dan handai taulan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya terkait partai kampus dan yakinkan diri anda.
Namun, tiga indikator tadi bukan merupakan hal yang mutlak, jika ada pertimbangan lain, seperti kedekatan dengan calon senat atau presma atau mengetahui derajat keilmuan dan intelektualitas calon senat, maka kombinasikan tiga indikator ini dengan pertimbangan tadi, atau gunakan salah satunya. Sekali lagi, sangat tidak disarankan untuk tidak memilih pada Pemira nanti. Sebagi warga universitas yang baik mari kita sukseskan Pemira tahun ini dengan datang ke tempat pemilihan umum, meskipun dengan menyobek kertas suara atau meludahi lalu melipatnya lagi (sangat tidak disarankan).
Bagi anda yang merasa calon senat dan tersakiti hatinya dengan tulisan ini dan merasa anda cukup dikenal dan berkualitas, silahkan tulis balasan anda. Mari budayakan membalas kritik dengan tulisan bukan dengan cemoohan. Terima Kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar