Politik
kampus Universitas Gadjah Mada sedang bergeliat. Pemilihan Raya Mahasiswa
(Pemira) sedang berjalan. Banyak poster, baliho, spanduk bertebaran
dimana-mana; di pertigaan, di perempatan, di bundaran, di setiap sudut kampus
ada poster yang memajang wajah-wajah calon senat dan presiden mahasiswa UGM.
Wajah-wajah tersenyum dengan jargon masing-masing, ada yang bilang ingin
mengembalikan kedaulatan kampus kerakyatan, ada yang bilang sebagai ajang
berkreasi, ada juga yang bilang mereka anti golongan tertentu. Intinya
calon-calon itu ingin dipilih dan ditempatkan sebagai perwakilan mahasiswa atau
lebih dikenal dengan nama senat mahasiswa.
UGM
memang salah satu universitas yang mengadaptasi bentuk pemilihan umum seperti
sebuah negara; ada partai, calon senat (DPR), dan presiden. Sistem ini dalam
beberapa hal mampu mengurangi masuknya kepentingan-kepentingan dan dominasi
kelompok pergerakan tertentu (HMI, PMII, GMNI, dll) kedalam lembaga tertinggi
mahasiswa, BEM KM UGM, sehingga stabilitas himpunan mahasiswa dapat terjaga
hingga akhir periode. Namun, disisi lain, sistem seperti ini tidak mampu
memberikan jaminan kualitas yang cukup baik pada calon-calon senat yang
nantinya terpilih. Sehingga muncul pertanyaan terkait indikator apa yang dapat
digunakan untuk menilai sebuah partai kampus dapat dipilih dan kualitas
calonnya dapat dipercaya. Menurut saya, setidaknya ada tiga indikator untuk
melihat hal tersebut:
1. Sistem
rekruitmen. Mari kita ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan
yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Maka bukankah penting
bagi kita melihat siapa saja yang akan menggerakkan roda-roda partai ini agar
berjalan sesuai dengan tujuan luhur itu? Bagaimana dia bisa menjadi perwakilan
kita di sebuah partai? Kemudian bayangkan, secara tiba-tiba dan sekejab mata
muncul orang yang mungkin dipilih secara acak dengan senyum asing dan tidak
dikenal datang sambil berkata, “saya akan mewakili anda sebagai kepanjangan
lidah anda nanti.” Apa kita akan percaya?
2. Eksistensi
partai. Mari sekali lagi ibaratkan semua partai kampus itu berdiri untuk tujuan
yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Kita ibaratkan juga,
calon-calon hasil undian tadi harus kita pilih. Bukankah peran partai dalam
politik kampus dan dinamika kehidupan kemahasiswaan pada tahun-tahun yang lalu
menjadi sangat penting. Lalu bayangkan,
partai-partai dengan nama, jargon yang aneh dan tidak meyakinkan datang hanya
setiap tahun sekali lalu bilang, “pilih kami, karena kami ingin mengembalikan
kampus kerakyatan, kami paling disayang mama, kami paling dominan, kami paling
sangar, kami paling bla, bla, bla,” apa kita akan percaya tahi kucing macam
itu?
3. Struktur
organisasi partai. Mari sekali lagi dan lagi kita ibaratkan semua partai kampus
itu berdiri untuk tujuan yang luhur, yaitu menegakkan tri dharma perguruan
tinggi—maaf jika anda mulai muak dengan ini. Bukankah menjadi penting untuk
melihat siapa yang bertanggung jawab nanti, siapa yang dapat memberikan
pertanggungjawaban nanti ketika amanat diselewengkan, atau paling tidak siapa
yang bisa disalahkan dan dijelek-jelekkan nanti ketika partai itu salah
langkah. Kemudian bayangkan ketika kita sangat butuh penjelasan dari partai, yang
ada orang-orang dengan senyum menjijikkan dan tidak dikenal tadi, datang sambil
berkata lagi, “saya hanya ikut-ikutan.”
Pada
titik ini mari kita simpulkan bahwa partai yang tidak memenuhi tiga indikator
ini secara benar adalah partai abal-abal yang hanya ingin haus kekuasaan dan
calonnya adalah calon yang haus akan riwayat organisasi di CV (buat kerja
nanti). Sedangkan partai yang mampu membangun sistem rekruitmen yang baik,
struktur organisasi yang jelas, dan kemunculan partainya tidak hanya saat
pemira adalah partai yang kompeten untuk dipilih. Pertanyaannya kembali pada
anda. Apakah anda sudah yakin partai atau calon yang anda dukung dan akan anda
pilih sudah menjalankan tiga indikator tadi? Jika belum, saya tidak menyarankan
anda untuk tidak memilih atau ikut-ikutan memilih karena diajak teman, sahabat,
dan handai taulan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya terkait partai kampus
dan yakinkan diri anda.
Namun,
tiga indikator tadi bukan merupakan hal yang mutlak, jika ada pertimbangan
lain, seperti kedekatan dengan calon senat atau presma atau mengetahui derajat
keilmuan dan intelektualitas calon senat, maka kombinasikan tiga indikator ini
dengan pertimbangan tadi, atau gunakan salah satunya. Sekali lagi, sangat tidak
disarankan untuk tidak memilih pada Pemira nanti. Sebagi warga universitas yang
baik mari kita sukseskan Pemira tahun ini dengan datang ke tempat pemilihan
umum, meskipun dengan menyobek kertas suara atau meludahi lalu melipatnya lagi
(sangat tidak disarankan).
Bagi
anda yang merasa calon senat dan tersakiti hatinya dengan tulisan ini dan
merasa anda cukup dikenal dan berkualitas, silahkan tulis balasan anda. Mari
budayakan membalas kritik dengan tulisan bukan dengan cemoohan. Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar