Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Untung saja ini bukan facebook, yang jika di tinggal beberapa hari akan banyak orang berjualan di halaman profil. Tidak adanya jaringan internet dan leptop bercampur jadi satu, kemudian menciptakan situasi yang saya namakan, "kekosongan tiada tara". Tetapi perlu diingat bahwa ini bukan salah negara yang tidak bisa menyediakan akses informasi pada rakyatnya. Ini harus di tekankan, karena saya tidak mau tulisan ini disalahgunakan orang-orang yang merasa bertanggung jawab mengurusi keluhan rakyat agar didengar oleh pemerintah. ehh.. baiklah kita lanjutkan
Kekosongan yang tiada tara ini bukan keluhan, bukan juga rasa syukur, tapi lebih kepada ekspresi dari perasaan yang tidak bisa di gambarkan #weits. Manusia--menurut saya--tidak bisa hidup tanpa informasi, karena manusia selalu ingin tahu, istilah kerennya kepo. Meskipun beberapa anak gaul ibu kota sering membedakan istilah kepo dan perasaan ingin tahu manusia, tapi saya rasa kata kepo bisa digunakan dalam masalah ini. Jadi keterbatasan akses yang saya miliki sedikit-banyak menghambat saya untuk mencari informasi terkini, entah tentang transfer pemain bola, berita mancanegara, atau teman yang sedang menjalin cinta secara tidak terduga. Di sisi lain, keterbatasan membuat saya menjadi lebih tenang. Otak dan pikiran saya tidak di ributkan dengan masalah statusisasi hubungan si goyang itik, hebohnya goyang bukak sitik, atau update terbaru film titik-titik-titik (sensor).
Tetapi untunglah informasi tidak hanya di sebarkan lewat media sosial atau internet, ada koran, majalah, buku, dan semua benda-benda dari kertas yang sudah dianggap tidak praktis lagi. Keberadaan benda-benda itu sangat membantu untuk memuaskan perasaan ingin tahu saya. Selain itu, pemanfaatan koran dan majalah dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi juga sangat membantu saya dalam menyaring informasi.
Mengapa bisa demikian?
pertama, Internet sebagai sumber yang paling populer dalam memberikan informasi, memiliki masalah dalam hal menjaring informasi. Kehebatan internet dalam mencari informasi tidak perlu kita pertanyakan lagi, dengan satu kata kunci saja, semua informasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kata kunci tersebut akan muncul. Hal ini menyebabkan pengguna internet yang perasaan kepo-nya terlalu besar akan menghadapi kesulitan untuk menahan berbagai godaan yang muncul ketika mencari informasi yang dibutuhkan. Berikut saya berikan studi kasus untuk menjelaskan argumen saya:
Si Budi adalah anak dari Ibu Ani. Dia berusia 19 tahun dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka baru beberapa minggu tinggal di Jogjakarta. Ibu Ani adalah seorang pesolek, baginya penampilan adalah nomor satu. Ini membuat dia menjadi sangat pemilih, terutama masalah salon kecantikan. Suatu hari Ibu Ani ingin mencari salon karena salon tempat biasa dia merawat tubuh tidak ikut pindah ke Jogjakarta. Ibu Ani kemudian menyuruh Budi, anaknya, untuk mencari info salon di Jogjakarta melalui media Internet. Budi kemudian bersegera menyalakan komputer dan jaringan internet untuk menjalankan perintah orang tua. Seperti pengguna internet kebanyakan, Budi membuka situs search engine terpercaya, google namanya, dan menuliskan kata kunci "info salon Jogjakarta". Alangkah terkejut dan bercampur bahagia (sedikit) Budi ketika yang ia dapati tidak hanya informasi seputar salon di Jogjakarta, tetapi juga "salon" di Jogjakarta. Karena Budi adalah tipikal laki-laki muda dengan semangat membara demi membantu orang tua, maka dia secara bertahap mencoba satu per satu "salon" di Jogjakarta dan memberikan informasi yang pasti tentang salon di Jogjakarta kepada ibunya.
Berdasar studi kasus tersebut, sangatlah jelas bahwa internet memiliki standar godaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan koran atau majalah. Saya yakin, jika Budi mencari salon lewat majalah kecantikan pasti ceritanya akan sangat berbeda. Perlu di jelaskan disini bahwa cerita di atas hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan peristiwa harap di maklumi. Kerancuan akhir cerita sengaja saya lakukan untuk menghindari berkembangnya cerita tersebut menjadi cerita dewasa karena saya sendiri adalah orang dengan keiingintahuan yang luar biasa. Satu lagi, kata kunci "info salon Jogjakarta" pernah di coba oleh seorang teman saya, dan hasil pencariannya seperti yang digambarkan dalam cerita.
bersambung....
Minggu, 29 September 2013
Senin, 26 Agustus 2013
berbahagialah kita semua yang percaya pada rezeki.
Banyak yang bilang hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Terkadang hidup itu semanis gadis cantik kembang desa atau mahasiswi baru idola remaja, tetapi kadang kebalikannya. Tidak ada seorang manusia pun yang tahu kapan seorang manusia berada di atas kapan di bawah, tidak juga peramal, dukun, dan paranormal. Kepercayaan pada sesuatu yang pasti adalah sebuah wujud ke-absurd-an manusia. Ada sebuah ungkapan (yang saya lupa siapa) yang mengatakan bahwa satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok atau nanti malam, mungkin pagi bahagia, siang bahagia, malam bersedih, atau sebaliknya.
Tetapi manusia sulit menerima kenyataan ini. Kehilangan, kesedihan, atau kesakitan yang di dera sangat sulit untuk di terima sebagai sebuah siklus perputaran roda seperti sebelumnya. Kemudian manusia berusaha mencari penjelasan dari musibahnya tadi, entah dengan cara ilmiah atau tidak ilmiah, tapi yang jelas segala usaha akan dilakukan demi mendapat penjelasan yang dianggap pasti. Tapi, seringkali manusia itu tidak pernah puas. Penjelasan saja tidak cukup, harus ada manusia lain yang salah dan disalahkan. Akibatnya, saling tuduh terjadi, rasa curiga menguat, isu-isu negatif di gemborkan, dan akhirnya terpecah semuanya.
Maka, berbahagialah kita semua yang percaya pada sesuatu yang dinamakan rezeki. Sesuatu yang tidak terikat pada apapun, sesuatu yang manusia tidak bisa kendalikan apalagi menyalahkan sang pemberi dan pencabut rezeki.
Minggu, 18 Agustus 2013
Mesir
Di beranda facebook saya ramai orang-orang yang membagikan tautan tentang pembunuhan masal orang-orang tak bersalah di Mesir, tentang matinya para mujahid dengan jumlah besar dalam waktu singkat. Di twitter penanda #saveEgypt atau #stopMassacreInEgypt menjadi bahan pembicaraan dunia. Jumlah korban simpang siur, kelompok IM (Ikhwanul Muslimin) mengatakan telah terjadi pembantaian besar-besaran oleh militer, sedangkan kelompok militer mengatakan bahwa mereka hanya mempertahankan diri dari para pemrotes yang bringas. Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan hal ini, hanya saja permasalahan ini semakin aneh ketika dua kelompok yang sedang bertengkar dan orang-orang yang memperhatikan terlalu sibuk mempermasalahkan jumlah korban yang ada. Saya paham, bahwa jumlah korban akan memberikan pembenaran yang cukup baik bagi kedua belah pihak. Jumlah korban yang melimpah ruah akan membuat posisi IM sebagai pendukung Mursi semakin kuat dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan, sedangkan jumlah korban yang tidak terlalu banyak akan membuat posisi militer tidak terlalu mendapat tekanan dari khayalak, dan mungkin bisa membantu militer untuk membenarkan tindakannya.
Sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya tidak terlalu mengerti dan tidak terlalu peduli dengan masalah Mesir ini. Saya seperti orang kebanyakan yaitu, golongan orang yang merasa tergangu aktivitas dunia mayanya karena berbagai tautan yang membanjiri beranda facebook dan twitter. Saya hanya menjadi prihatin ketika terjadi saling hujat antara kelompok satu dan kelompok lain karena perbedaan jumlah yang di sampaikan, atau karena yang disoroti bukan yang mereka inginkan, atau mungkin tidak ikut aksi yang di jalankan. Dari sini terlihat jelas bahwa telah terjadi kebencian antara satu dan yang lainnya. Mungkin contohnya seperti ini:
*Saya tidak tahu apakah hal-hal seperti ini ada di beranda kalian, tapi jika kalian menemukannya sebaiknya kalian mulai khawatir.
Menjadi pembenci adalah masalah setiap orang, tetapi ketika kebencian tersebut ditularkan kepada orang lain dan membuat yang lainnya turut menjadi pembenci, itu yang menjadi masalah. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan, "kasihanilah yang masih hidup, jangan kasihanilah yang sudah mati", nampaknya ungkapan ini harus dipahami oleh orang-orang yang terlalu sering menghujat di dunia maya soal jumlah orang yang tewas di Mesir. Ibaratnya, kita sedang membeli jeruk 2 kilogram, tapi kita yang kita dapat adalah apel 1 kilogram, lalu yang kita permasalahkan adalah jumlah kilogram yang kita dapat, bukan buah yang kita inginkan. Sangat aneh bukan?
Semoga nanti bisa menjadi lebih baik.
Sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya tidak terlalu mengerti dan tidak terlalu peduli dengan masalah Mesir ini. Saya seperti orang kebanyakan yaitu, golongan orang yang merasa tergangu aktivitas dunia mayanya karena berbagai tautan yang membanjiri beranda facebook dan twitter. Saya hanya menjadi prihatin ketika terjadi saling hujat antara kelompok satu dan kelompok lain karena perbedaan jumlah yang di sampaikan, atau karena yang disoroti bukan yang mereka inginkan, atau mungkin tidak ikut aksi yang di jalankan. Dari sini terlihat jelas bahwa telah terjadi kebencian antara satu dan yang lainnya. Mungkin contohnya seperti ini:
ya,, seperti ini,
*Saya tidak tahu apakah hal-hal seperti ini ada di beranda kalian, tapi jika kalian menemukannya sebaiknya kalian mulai khawatir.
Menjadi pembenci adalah masalah setiap orang, tetapi ketika kebencian tersebut ditularkan kepada orang lain dan membuat yang lainnya turut menjadi pembenci, itu yang menjadi masalah. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan, "kasihanilah yang masih hidup, jangan kasihanilah yang sudah mati", nampaknya ungkapan ini harus dipahami oleh orang-orang yang terlalu sering menghujat di dunia maya soal jumlah orang yang tewas di Mesir. Ibaratnya, kita sedang membeli jeruk 2 kilogram, tapi kita yang kita dapat adalah apel 1 kilogram, lalu yang kita permasalahkan adalah jumlah kilogram yang kita dapat, bukan buah yang kita inginkan. Sangat aneh bukan?
Semoga nanti bisa menjadi lebih baik.
Kamis, 15 Agustus 2013
Manusia Spons
Melihat kampanye calon gubernur Jawa Timur saya jadi prihatin. Prihatin bukan pada calon gubernurnya, tapi orang-orang yang berada di samping kanan-kirinya. Yang berteriak lebih kencang dari calon gubernurnya, bekerja lebih keras dari calon gubernurnya, yang lebih berkeringat di banding calon gubernurnya. Orang yang selalu ada untuk membuat orang lain yang tidak mengerti bertepuk tangan, berdoa dan mengucap amin. Tipikal orang seperti ini bekerja dengan mekanisme spons. Tahu spons? bukan Bob si spons yang berwarna kuning dan bercelana kotak. Tetapi spons yang biasanya digunakan ibu-ibu modern untuk mencuci piring (ibu-ibu tradisional biasanya menggunakan sabut kelapa).
ini contoh spons ibu modern
*Spons memiliki daya serap yang kuat, dikarenakan rongga besar sehingga memungkinkan terjadinya peristiwa kapilaritas. haha
Orang-orang yang seperti spons itu tidak hanya ada di sekitar para calon gubernur, diluar sana banyak orang model spons. Dalam bahasa yang lebih kasar, orang macam spons ini biasa di sebut penjilat. Meskipun ada sedikit perbedaan diantara keduanya. Manusia spons ini biasanya memiliki loyalitas yang tinggi pada atasannya, mereka akan berusaha melakukan segala sesuatu untuk membuat atasannya puas dengan pekerjaannya, tapi dengan mengharap balasan yang setimpal tentunya. Mereka akan menyerap semua yang di miliki oleh atasannya, perintah, pendapat, dan ajakan. Berharap bisa seperti tuannya atau paling tidak mendekati tuannya.
Tapi, spons yang di beri air adalah spons yang akan dipakai, dan spons yang dipakai berarti akan diperas dan kehilangan air. Hingga pada akhirnya, spons itu sudah diperas sampai habis, kotor, dan ditinggalkan. Mungkin mereka salah memilih tuan, atau memang takdir menjadi sebuah spons memang seperti itu, saya tidak tahu.
.
Mbah Petani
Seperti kebanyakan keluarga lainnya, fenomena lebaran berhasil mempertemukan keluarga saya dengan keluarga-keluarga lain yang masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga saya. Tidak terkecuali seorang keluarga petani yang mana adalah keluarga dari kakak angkat saya, yang mana (lagi) hal tersebut berarti petani tembakau itu adalah kakek dan nenek saya. Sebenarnya sudah setiap tahun saya berkunjung ke rumah Mbah saya itu, jadi tidak ada kecanggungan ataupun perasaan asing waktu bertemu. Mbah saya ini adalah petani dan peternak. Sebagai peternak dia punya sekeluarga Sapi di depan rumahnya, tapi sebagai petani, mbah saya masih harus menyewa lahan karena, seperti petani kebanyakan di wilayah Situbondo, mbah saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli lahan.
Kakek atau Mbah saya ini adalah seorang petani tembakau sekaligus pengolah tembakau. Dia bercerita bahwa bertani dan mengolah tembakau diajarkan secara turun temurun dari keluarganya. Maklum, pada jaman penjajahan dulu, wilayah tapal kuda (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember) merupakan salah satu penghasil tembakau dan penghasil tebu yang cukup besar. Jadi tidak salah jika di daerah tersebut banyak orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari bertani dan mengolah tembakau.
Sore itu mbah saya curhat soal lahan tembakau anaknya yang rusak karena terkena angin, rugi besar, tidak bisa di tolong lagi katanya. Dia kecewa bukan hanya karena rugi, tapi karena gagal mengajari anaknya.
Itu baru kena angin, bagaimana nanti jika rokok dilarang karena merusak kesehatan generasi bangsa, merokok diharamkan karena di anggap pekerjaan sia-sia dan banyak ruginya, petani tembakau tidak boleh menanam tembakau, dan disuruh menanam padi dan palawija karena produksi tembakau hanya untuk kosmetik dan obat yang tidak seberapa. Bagaimana mbah saya? bagaimana petani temabakau?
Kasihan nasibmu mbah,,
Senin, 29 Juli 2013
Berita Kita Hari Ini (bagian 2)
Tidak bisa dipungkiri bahwa nyawa dari sebuah koran adalah pembaca, sehingga artikel yang ada harus memenuhi tuntutan para pembaca. Inilah yang kemudian sering memunculkan istilah bad news is a good news. Istilah tersebut namapaknya juga mempengaruhi bentuk-bentuk judul yang ada di dunia maya saat ini. Memang judul harus memberi gambaran sebuah berita, tapi judul yang ada seharusnya tidak menimbulkan penafsiran liar dari pembaca sebelum membaca keseluruhan isi berita.
Beberapa hari yang lalu di halaman facebook saya, ada iklan berita seperti ini, "Bulan Ramadhan Dewi Cinta Justru Rilis Video Seksi" yang disertai foto seorang gadis yang setengah telanjang dengan sensor di bagian dadanya. Iklan berita tersebut tentu saja menimbulkan penafsiran negatif bagi para pembaca. Penafsiran yang ada kemungkinan seperti ini; foto yang di pasang adalah potongan video seksi tersebut, Dewi Cinta tidak peduli dengan Bulan Ramadhan, Dewi Cinta sengaja membuat video seksi di Bulan Ramadhan. Kenyataannya, setelah membuka tautan berita tersebut, tidak ada berita seperti itu dalam halaman yang terbuka. Tautan tersebut hanya mengarahkan saya pada halaman depan sebuah situs berita selebritis yang lumayan terkemuka (kapanlagi.com).
Dengan judul seperti itu, tidak menutup kemungkinan orang hanya akan menafsirkan berita berdasarkan informasi yang sudah dia dapat dari judul tersebut, tanpa melihat kenyataan yang ada. Meskipun orang yang membuka kecewa karena tidak mendapatkan berita dan juga video seksi yang diinginkan, tetapi penafsiran yang sebelumnya sudah ada akan terus dianggap sebagai kebenaran. Kenyataan yang sebenarnya dari berita tersebut, setelah mencari dari sumber berita yang lain, adalah Dewi Cinta merupakan penyanyi yang memang mengeluarkan video, tetapi video tersebut adalah video klip dan bukan video pribadi. Unsur di video tersebut memang menonjolkan keseksian, tetapi, menurut Dewi Cinta, video tersebut masih berada dalam jalur yang tepat dari sisi seni sehingga tidak ada yang bisa dipermasalahkan. Selain itu, Dewi Cinta adalah penyanyi yang memang gemar menonjolkan keseksiannya di dunia hiburan tanah air sehingga tidak ada kejutan berarti dalam rilis videonya tersebut. Kemudian terkait dengan Bulan Ramadhan, menurut Dewi Cinta lagi, tidak ada kesengajaan dalam rilis videonya tersebut. Waktu perilisan video tersebut karena mengikuti jadwal yang sudah diatur oleh label yang menaunginya.
Permasalahan dalam judul berita ini adalah, ketika judul tersebut telah membuat pembaca menginterpretasikan berita tanpa membaca fakta yang ada. Akibatnya bisa bermacam-macam, dari stigma negatif yang disematkan pada Dewi Cinta, hingga cemoohan yang berujung pada ancaman akibat dianggap menodai kesucian ramadhan bisa saja terjadi. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah dalam judul berita tersebut. Mungkin Friedrich Nietzsche pernah berkata "There are no facts, only interpretations", tapi saya yakin interpretasi yang dimaksudkan Nietzsche adalah interpretasi dari fakta-fakta yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan, dan tidak ada yang lebih buruk daripada interpretasi yang berdasarkan pada sesuatu selain fakta-fakta yang ada.
Pada akhirnya, kepekaan dari pembaca di dunia maya menjadi sangat penting. Kepedulian untuk mencermati judul yang ada dan membaca keseluruhan isi berita tanpa membuat kesimpulan yang terburu-buru akan membantu para pembaca dunia maya menjadi orang-orang yang lebih bijak dalam mencermati setiap fenomena di masyarakat, dan tentu saja akan mempengaruhinya dalam bertindak ataupun berpendapat, baik di dunia maya ataupun nyata.
-Tamat-
(ditulis oleh mahasiswa hubungan internasional yang mulai merasa menjadi mahasiswa komunikasi setelah tulisan ini diposting)
Beberapa hari yang lalu di halaman facebook saya, ada iklan berita seperti ini, "Bulan Ramadhan Dewi Cinta Justru Rilis Video Seksi" yang disertai foto seorang gadis yang setengah telanjang dengan sensor di bagian dadanya. Iklan berita tersebut tentu saja menimbulkan penafsiran negatif bagi para pembaca. Penafsiran yang ada kemungkinan seperti ini; foto yang di pasang adalah potongan video seksi tersebut, Dewi Cinta tidak peduli dengan Bulan Ramadhan, Dewi Cinta sengaja membuat video seksi di Bulan Ramadhan. Kenyataannya, setelah membuka tautan berita tersebut, tidak ada berita seperti itu dalam halaman yang terbuka. Tautan tersebut hanya mengarahkan saya pada halaman depan sebuah situs berita selebritis yang lumayan terkemuka (kapanlagi.com).
Dengan judul seperti itu, tidak menutup kemungkinan orang hanya akan menafsirkan berita berdasarkan informasi yang sudah dia dapat dari judul tersebut, tanpa melihat kenyataan yang ada. Meskipun orang yang membuka kecewa karena tidak mendapatkan berita dan juga video seksi yang diinginkan, tetapi penafsiran yang sebelumnya sudah ada akan terus dianggap sebagai kebenaran. Kenyataan yang sebenarnya dari berita tersebut, setelah mencari dari sumber berita yang lain, adalah Dewi Cinta merupakan penyanyi yang memang mengeluarkan video, tetapi video tersebut adalah video klip dan bukan video pribadi. Unsur di video tersebut memang menonjolkan keseksian, tetapi, menurut Dewi Cinta, video tersebut masih berada dalam jalur yang tepat dari sisi seni sehingga tidak ada yang bisa dipermasalahkan. Selain itu, Dewi Cinta adalah penyanyi yang memang gemar menonjolkan keseksiannya di dunia hiburan tanah air sehingga tidak ada kejutan berarti dalam rilis videonya tersebut. Kemudian terkait dengan Bulan Ramadhan, menurut Dewi Cinta lagi, tidak ada kesengajaan dalam rilis videonya tersebut. Waktu perilisan video tersebut karena mengikuti jadwal yang sudah diatur oleh label yang menaunginya.
Permasalahan dalam judul berita ini adalah, ketika judul tersebut telah membuat pembaca menginterpretasikan berita tanpa membaca fakta yang ada. Akibatnya bisa bermacam-macam, dari stigma negatif yang disematkan pada Dewi Cinta, hingga cemoohan yang berujung pada ancaman akibat dianggap menodai kesucian ramadhan bisa saja terjadi. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah dalam judul berita tersebut. Mungkin Friedrich Nietzsche pernah berkata "There are no facts, only interpretations", tapi saya yakin interpretasi yang dimaksudkan Nietzsche adalah interpretasi dari fakta-fakta yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan, dan tidak ada yang lebih buruk daripada interpretasi yang berdasarkan pada sesuatu selain fakta-fakta yang ada.
Pada akhirnya, kepekaan dari pembaca di dunia maya menjadi sangat penting. Kepedulian untuk mencermati judul yang ada dan membaca keseluruhan isi berita tanpa membuat kesimpulan yang terburu-buru akan membantu para pembaca dunia maya menjadi orang-orang yang lebih bijak dalam mencermati setiap fenomena di masyarakat, dan tentu saja akan mempengaruhinya dalam bertindak ataupun berpendapat, baik di dunia maya ataupun nyata.
-Tamat-
(ditulis oleh mahasiswa hubungan internasional yang mulai merasa menjadi mahasiswa komunikasi setelah tulisan ini diposting)
Berita Kita Hari Ini (bagian 1)
Saat ini media sosial sudah menjadi sesuatu yang digandrungi banyak orang. Facebook dan twitter sudah menjadi halaman wajib yang ada di jendela perambah orang yang melakukan aktivitas dunia maya. Semakin hari, semakin banyak orang yang kecanduan media sosial (termasuk saya), dan kecanduan ini membuat orang-orang menjadi malas mencari, membaca, dan mengedarkan informasi dan berita lewat dunia nyata. Kepraktisan, keffisienan, dan harga yang murah adalah alasan utamanya. Perkembangan media sosial ini juga didukung dengan perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Semakin pintarnya telepon genggam yang digunakan manusia membuat akses informasi melalui dunia maya semakin mudah. Belum lagi dengan adanya komputer ukuran kecil (yang biasa disebut tablet) menambah kenyamanan para peselancar dunia maya ini.
Media sosial dan teknologi telah menjadi pasangan yang mesra. Manusia kini mengandalkan kepraktisan "pasangan" baru tersebut untuk mencari informasi. Orang-orang mulai beralih dari membaca koran setiap pagi menjadi memperbaharui status halaman facebook dan twitternya, atau sekedar melihat aktivitas yang terjadi di dunia maya. Namun, lama kelamaan orang-orang akan menjadi bosan melihat dan melakukan aktivitas yang begitu-begitu saja. Manusia membutuhkan informasi yang segar setiap harinya, dan tentu saja dari sumber yang dapat dipercaya selain teman-teman di facebook atau pengikut di twitter. Manusia membutuhkan berita dan informasi lainnya, tapi tetap tidak menghilangkan kepraktisan yang sudah dirasakan saat ini.
Koran sebagai penyalur informasi dan berita menjadi salah satu media yang harus menyesuaikan dengan hal tersebut. Koran, mau tidak mau, harus tetap menjadi penjamin tersedianya berita dan informasi bagi masyarakat, tetapi juga harus tidak mengganggu dan mengurangi kenyamanan masyarakat akan nilai-nilai kepraktisan dan keefisienan yang sudah dianut saat ini. Pasalnya, koran model konvensional, dengan kertas, telah dipertanyakan keefektivannya. Ukuran yang besar dan mudah kusut menjadi masalah. Selain itu, penggunaan kertas dianggap dapat merusak ekosistem bumi yang kita cintai bersama ini.
Demi memenuhi tuntan tersebut, kantor-kantor berita -nasional maupun internasional- kemudian membuat situs berita di dunia maya yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan "manusia dunia maya" akan informasi yang terpercaya. Situs-situs berita menjadi semakin banyak dan semakin beragam. Orang-orang yang aktif di dunia maya dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Kantor-kantor berita juga berbenah, kebutuhan akan biaya operasional kini tidak lagi bergantung pada hasil penjualan koran dan iklan di koran saja, tetapi juga iklan-iklan di situs beritanya. Permasalahan dimulai disini, jadilah situs berita lebih banyak iklan yang ditampilkan daripada berita yang disampaikan
Permasalahan tidak berhenti disitu, persaingan yang ketat antar situs-situs berita mengharuskan setiap situs berita menjalanakan promosi yang kuat pula. Situs-situs berita online kini mulai aktif dalam jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Lewat twitter, situs-situs berita memperbaharui setiap informasi yang ada melalui lini masa para pengikutnya, dan lewat facebook situs online yang sudah dikenal menyebarkan informasi lewat halaman beranda teman-temannya. Hal ini sebenarnya berdampak positif bagi persebaran informasi. Orang-orang akan semakin terbaharui (up to date) informasi yang diterimanya. Namun, keterbatasan penggunaan karakter kata di media sosial mengharuskan situs-situs berita menggunakan judul-judul yang sering kali berbau kontroversial sehingga orang menjadi tertarik dan penasaran untuk membaca. Hal ini sering terjadi di twitter dan promosi berita pada jendela facebook sebelah kanan (kadang disertai foto sensual yang tidak ada sangkut pautnya dengan berita). Permasalahan ini semakin pelik ketika pembaca --yang semula mencari informasi yang lengkap -- menjadi merasa terpenuhi hasrat keingintahuannya setelah hanya membaca judul dan melihat foto yang disampaikan.
Media sosial dan teknologi telah menjadi pasangan yang mesra. Manusia kini mengandalkan kepraktisan "pasangan" baru tersebut untuk mencari informasi. Orang-orang mulai beralih dari membaca koran setiap pagi menjadi memperbaharui status halaman facebook dan twitternya, atau sekedar melihat aktivitas yang terjadi di dunia maya. Namun, lama kelamaan orang-orang akan menjadi bosan melihat dan melakukan aktivitas yang begitu-begitu saja. Manusia membutuhkan informasi yang segar setiap harinya, dan tentu saja dari sumber yang dapat dipercaya selain teman-teman di facebook atau pengikut di twitter. Manusia membutuhkan berita dan informasi lainnya, tapi tetap tidak menghilangkan kepraktisan yang sudah dirasakan saat ini.
Koran sebagai penyalur informasi dan berita menjadi salah satu media yang harus menyesuaikan dengan hal tersebut. Koran, mau tidak mau, harus tetap menjadi penjamin tersedianya berita dan informasi bagi masyarakat, tetapi juga harus tidak mengganggu dan mengurangi kenyamanan masyarakat akan nilai-nilai kepraktisan dan keefisienan yang sudah dianut saat ini. Pasalnya, koran model konvensional, dengan kertas, telah dipertanyakan keefektivannya. Ukuran yang besar dan mudah kusut menjadi masalah. Selain itu, penggunaan kertas dianggap dapat merusak ekosistem bumi yang kita cintai bersama ini.
Demi memenuhi tuntan tersebut, kantor-kantor berita -nasional maupun internasional- kemudian membuat situs berita di dunia maya yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan "manusia dunia maya" akan informasi yang terpercaya. Situs-situs berita menjadi semakin banyak dan semakin beragam. Orang-orang yang aktif di dunia maya dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Kantor-kantor berita juga berbenah, kebutuhan akan biaya operasional kini tidak lagi bergantung pada hasil penjualan koran dan iklan di koran saja, tetapi juga iklan-iklan di situs beritanya. Permasalahan dimulai disini, jadilah situs berita lebih banyak iklan yang ditampilkan daripada berita yang disampaikan
Permasalahan tidak berhenti disitu, persaingan yang ketat antar situs-situs berita mengharuskan setiap situs berita menjalanakan promosi yang kuat pula. Situs-situs berita online kini mulai aktif dalam jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Lewat twitter, situs-situs berita memperbaharui setiap informasi yang ada melalui lini masa para pengikutnya, dan lewat facebook situs online yang sudah dikenal menyebarkan informasi lewat halaman beranda teman-temannya. Hal ini sebenarnya berdampak positif bagi persebaran informasi. Orang-orang akan semakin terbaharui (up to date) informasi yang diterimanya. Namun, keterbatasan penggunaan karakter kata di media sosial mengharuskan situs-situs berita menggunakan judul-judul yang sering kali berbau kontroversial sehingga orang menjadi tertarik dan penasaran untuk membaca. Hal ini sering terjadi di twitter dan promosi berita pada jendela facebook sebelah kanan (kadang disertai foto sensual yang tidak ada sangkut pautnya dengan berita). Permasalahan ini semakin pelik ketika pembaca --yang semula mencari informasi yang lengkap -- menjadi merasa terpenuhi hasrat keingintahuannya setelah hanya membaca judul dan melihat foto yang disampaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)

