Kemarin saya berak lama sekali. benar-benar lama sampai-samapai kaki saya kesemutan. Dalam perenungan itu saya berpikir tentang manusia, Tuhan, uang kontrakan, kamu, dan mengingat-ingat kapan terakhir kali saya berak, tiga hari lalu mungkin. Satu hal yang paling lama menyita waktu berak istimewa saya di pagi minggu yang cerah itu adalah tentang manusia dan waktu. Bagi saya manusia adalah seonggok daging yang dikelilingi waktu, kita hidup dalam waktu, dikejar oleh waktu, mengejar waktu, menstruasi
dan membayar kontrakan itu sama; harus tepat waktu. Kita tidak bisa menciptakan waktu, waktu itu muncul dan ditetapkan tanpa kita paham mengapa waktu begitu penting. Sedikti penjelasan, waktu yang saya maksud disini adalah ukuran yang ditetapkan oleh manusia dengan alat ukur seperti jam dinding, jam tangan, jam hape, jam weker, dan jam-jam lainnya. Padahal ayam jantan tahu kapan dia harus berkokok tanpa memakai jam tangan; meskipun dia tidak punya tangan, dan burung tahu kapan harus pulang meskipun anaknya tak mengiriminya pesan singkat, sticker line, dan meskipun dia tak punya anak.
Yang paling mengherankan adalah dokter-dokter atas nama kesehatan menetapkan rangkaian waktu berak yang baik dan "menyehatkan". Pukul 8 pagi dan setiap hari atau dua hari sekali dianggap sebagai cara berka yang baik dan menyehatkan (ini artikelnya Berak). Coba bayangkan, waktu yang paling intim antara saya dan tubuh saya juga diatur. Jika kita menggunakan sedikit teori kospiurasi paling populer saat ini, kondisi ini disebut sebagai penetrasi kapitalisme dalam ranah yang paling privat dalam kehidupan manusia. Teori mengenai berak yang menyehatkan ini mengajak dan memaksa manusia untuk melakukan ritual pagi atas nama kesehatan. Namun coba dicermati lebih jauh, jika manusia berak jam 8 pagi, maka kecil kemungkinan baginya untuk berak di jam-jam lain di hari itu, yang notabene adalah waktu kerja produktif bagi buruh ataupun pegawai kantoran. Semakin sedikit waktu yang dibuang untuk melakukan aktivitas produksi maka semakin banyak barang yang dihasilkan, dan semakin banyak barang yang dihasilkan maka semakin banyak untung yang didapat. Sungguh jahat.
Waktu memaksa kita untuk terus bergerak atas nama produktifitas, waktu juga memaksa kita untuk terus mengkonsumsi, dan tak ada waktu yang cukup untuk bisa membuat kamu mengerti betapa aku mencintai kamu.(hahaha). Jika kalian mau cobalah sedikit mengakali waktu, jangan berak jam 8, jangan beli hape baru jika kalian merasa telah menggunakannya selama bertahun-tahun, jangan beli baju baru jika hanya ada baju dengan warna lebih cerah. Jadilah pengatur waktu bagi diri kalian sendiri. Hiduplah dengan waktu yang kalian ciptakan sendiri dan kalian maknai sendiri. Seperti duduk dikamar berdua selama berjam-jam tanpa menghiraukan ini jam berapa, bercakap-cakap dengan teman meskipun waktu bilang saatnya pulang, atau berak jika kalian ingin dan ingat untuk berak. Tapi jangan terlalu cepat dan terburu-buru melepaskan dan menciptakan waktu, masih banyak waktu yang perlu dihiraukan, seperti jam diatas layar monitor saya yang menunjukkan lamanya pengguanaan jasa warnet dan biaya yang harus dibayar.
Ingat ciptakan waktu kalian sendiri dan maknai dia dengan sepenuh hati.
Minggu, 07 September 2014
Sabtu, 30 Agustus 2014
Bertiga
Aku masih ingat di kamis yang lampau kita berjalan; di bawah bintang, tak bergandeng tangan, tak bertatapan. aku ingat kita masih meresapi lakon yang bahkan kita berdua tak mengerti apa artinya.
Aku mengajakmu bicara, tapi kau memilih berbincang dengan sepi. Di kamis yang lampau itu pula aku selalu ingat bahwa kita tak selalu berdua. Kita bertiga.
Aku mengajakmu bicara, tapi kau memilih berbincang dengan sepi. Di kamis yang lampau itu pula aku selalu ingat bahwa kita tak selalu berdua. Kita bertiga.
Antara Ardilla dan Frau
aku ingin berbulan madu di atas pelangi, kau ingin menjadi pasangan pertama yang bercinta diluar angkasa, ohh sayang, kita terpisah dua generasi.
Selasa, 26 Agustus 2014
15 menit perjalanan
langit masih terang, sore belum datang, anak-anak bermain di halaman, yang lain mengamen dijalan. Mobil berderu kencang, motor maengikuti di belakang, sepeda tak bisa menyebrang, tukang parkir duduk menunggu panggilan. Ada gelandangan terpejam, berdiri, memegang pagar, padahal hari masih terang. Saya lewat di seberang, menatap bosan tanpa rasa heran. Mungkin dia kelelahan atau dia jarang makan. ahh, saya masih tak heran.
hal-hal
ketika seorang manusia terjebak dalam kegagalan yang diulang-ulang, apa ungkapan yang tepat untuknya selain bodoh? ketika manusia berhenti bertanya karena terlalu sering ditanya mengapa ia selalu bertanya, apa ungkapan yang tepat selain bodoh? dan ketika manusia yang mencintai manusia lainnya tanpa mencintai dirinya sendiri, apakah ia juga bisa disebut bodoh?
Senin, 11 Agustus 2014
Eko Budi Hartono
Dua hari setelah ulang tahunnya, Eko Budi Hartono wafat di Samarinda karena serangan jantung. Sehari sebelumya, di malam hari, dia datang ke kantornya bersama satpam menonton pertandingan catur antara temanya dengan temannya yang lain. Dua hari sebelumnya, dia berulang tahun dan membagi-bagikan lontong kaldu ke tetangga di sekitar kontrakannya. Tiga hari sebelumnya dia kecelakaan dan mengalami sedikit lecet di bagian paha, tapi esoknya dia pulang dan kembali bercanda. Seminggu sebelumnya dia datang ke rumah temannya dan bercakap-cakap tentang keraguannya akan umurnya yang tak sampai empat puluh tahun. Sekitar lima tahun sebelumnya dia mengajarkan saya membaca peta dengan metode back azimuth, cukup menarik tapi tidak terlalu sering saya gunakan. Di hari yang berbeda di tahun yang sama, dia menceritakan pengalamannya mendaki gunung, melakukan ekspedisi tujuh puncak jawa, dan menjadi tim relawan SAR di gunung Argopuro. Beberapa tahun sebelum tahun itu, dia masih kuliah dan belum lulus, bercerita tentang kuliah yang terhambat karena mengikuti eskavasi di trowulan, membuka warnet, dan susur sungai mencari jejak-jejak purbakala sebagai bahan skripsi. Masih di tahun yang sama dan hari yang berbeda, dia menunjukkan cerpennya, romantis dan tragis. Tiga puluh enam tahun kemudian, dia wafat, meninggalkan keluarga yang bersedih, anak-anak yang masih tak tau apa yang terjadi, istri yang menangis semalam penuh, mimpi-mimpi menjadi arkeolog, dan semangat untuk membuat cerpen yang romantis dan tragis.
Untuk Eko Budi Hartono alias Crayon alias Asraf alias Ayah alias Mas Eko alias Om Eko.
Untuk Eko Budi Hartono alias Crayon alias Asraf alias Ayah alias Mas Eko alias Om Eko.
iseng
apa kabarmu? lama tak mendengar berita tentang mu. Apa kamu sudah dimakan hantu? atau aku yang sedang dimakan rindu? aku tak tau
Langganan:
Postingan (Atom)