Minggu, 07 September 2014

Waktu berak saya...

Kemarin saya berak lama sekali. benar-benar lama sampai-samapai kaki saya kesemutan. Dalam perenungan itu saya berpikir tentang manusia, Tuhan, uang kontrakan, kamu, dan mengingat-ingat kapan terakhir kali saya berak, tiga hari lalu mungkin. Satu hal yang paling lama menyita waktu berak  istimewa saya di pagi minggu yang cerah itu adalah tentang manusia dan waktu. Bagi saya manusia adalah seonggok daging yang dikelilingi waktu, kita hidup dalam waktu, dikejar oleh waktu, mengejar waktu, menstruasi  dan membayar kontrakan itu sama; harus tepat waktu. Kita tidak bisa menciptakan waktu, waktu itu muncul dan ditetapkan tanpa kita paham mengapa waktu begitu penting. Sedikti penjelasan, waktu yang saya maksud disini adalah ukuran yang ditetapkan oleh manusia dengan alat ukur seperti jam dinding, jam tangan, jam hape, jam weker, dan jam-jam lainnya. Padahal ayam jantan  tahu kapan dia harus berkokok tanpa memakai jam tangan; meskipun dia tidak punya tangan, dan burung tahu kapan harus pulang meskipun anaknya tak mengiriminya pesan singkat, sticker line, dan meskipun dia tak punya anak.

Yang paling mengherankan adalah dokter-dokter atas nama kesehatan menetapkan rangkaian waktu berak yang baik dan "menyehatkan". Pukul 8 pagi dan setiap hari atau dua hari sekali dianggap sebagai cara berka yang baik dan menyehatkan (ini artikelnya Berak). Coba bayangkan, waktu yang paling intim antara saya dan tubuh saya juga diatur. Jika kita menggunakan sedikit teori kospiurasi paling populer saat ini, kondisi ini disebut sebagai penetrasi kapitalisme dalam ranah yang paling privat dalam kehidupan manusia. Teori mengenai berak yang menyehatkan ini mengajak dan memaksa manusia untuk melakukan ritual pagi atas nama kesehatan. Namun coba dicermati lebih jauh, jika manusia berak jam 8 pagi,  maka kecil kemungkinan baginya untuk berak di jam-jam lain di hari itu, yang notabene adalah waktu kerja produktif bagi buruh ataupun pegawai kantoran. Semakin sedikit waktu yang dibuang untuk melakukan aktivitas produksi maka semakin banyak barang yang dihasilkan, dan semakin banyak barang yang dihasilkan maka semakin banyak untung yang didapat. Sungguh jahat.

Waktu memaksa kita untuk terus bergerak atas nama produktifitas, waktu juga memaksa kita untuk terus mengkonsumsi, dan tak ada waktu yang cukup untuk bisa membuat kamu mengerti betapa aku mencintai kamu.(hahaha). Jika kalian mau cobalah sedikit mengakali waktu, jangan berak jam 8, jangan beli hape baru jika kalian merasa telah menggunakannya selama bertahun-tahun, jangan beli baju baru jika hanya ada baju dengan warna lebih cerah. Jadilah pengatur waktu bagi diri kalian sendiri. Hiduplah dengan waktu yang kalian ciptakan sendiri dan kalian maknai sendiri. Seperti duduk dikamar berdua selama berjam-jam tanpa menghiraukan ini jam berapa, bercakap-cakap dengan teman meskipun waktu bilang saatnya pulang, atau berak jika kalian ingin dan ingat untuk berak. Tapi jangan terlalu cepat dan terburu-buru melepaskan dan menciptakan waktu, masih banyak waktu yang perlu dihiraukan, seperti jam diatas layar monitor saya yang menunjukkan lamanya pengguanaan jasa warnet dan biaya yang harus dibayar.

Ingat ciptakan waktu kalian sendiri dan maknai dia dengan sepenuh hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar