Senin, 11 Agustus 2014

Eko Budi Hartono

Dua hari setelah ulang tahunnya, Eko Budi Hartono wafat di Samarinda karena serangan jantung. Sehari sebelumya, di malam hari, dia datang ke kantornya bersama satpam menonton pertandingan catur antara temanya dengan temannya yang lain. Dua hari sebelumnya, dia berulang tahun dan membagi-bagikan lontong kaldu ke tetangga di sekitar kontrakannya. Tiga hari sebelumnya dia kecelakaan dan mengalami sedikit lecet di bagian paha, tapi esoknya dia pulang dan kembali bercanda. Seminggu sebelumnya dia datang ke rumah temannya dan bercakap-cakap tentang keraguannya akan umurnya yang tak sampai empat puluh tahun. Sekitar lima tahun sebelumnya dia mengajarkan saya membaca peta dengan metode back azimuth, cukup menarik tapi tidak terlalu sering saya gunakan. Di hari yang berbeda di tahun yang sama, dia menceritakan pengalamannya mendaki gunung, melakukan ekspedisi tujuh puncak jawa, dan menjadi tim relawan SAR di gunung Argopuro. Beberapa tahun sebelum tahun itu, dia masih kuliah dan belum lulus, bercerita tentang kuliah yang terhambat karena mengikuti eskavasi di trowulan, membuka warnet, dan susur sungai mencari jejak-jejak purbakala sebagai bahan skripsi. Masih di tahun yang sama dan hari yang berbeda, dia menunjukkan cerpennya, romantis dan tragis. Tiga puluh enam tahun kemudian, dia wafat, meninggalkan keluarga yang bersedih, anak-anak yang masih tak tau apa yang terjadi, istri yang menangis semalam penuh, mimpi-mimpi menjadi arkeolog, dan semangat untuk membuat cerpen yang romantis dan tragis.

Untuk Eko Budi Hartono alias Crayon alias Asraf alias Ayah alias Mas Eko alias Om Eko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar