Sore hari sejuk sekali di taman itu, orang-orang berjalan,
berbincang, dan berlari riang di bawah dahan pohon-pohon angsana yang rindang.
Tanah basah menceritakan kisah tentang sebuah pohon tua yang tumbang ditiup angin
dan dihempas hujan semalam. Sebuah bangku taman yang tergeletak rusak tak berdaya
di pinggir trotoar adalah korban kejadian semalam. Penjaga taman memungut potongan
bangku taman, sambil berharap tak ada lagi korban yang jatuh, karena itu merepotkan.
Di sudut taman, seorang pria berbincang dengan seorang gadis berambut lurus, berwajah
cantik, dan tingginya sedang. Sang pria terlihat bimbang, dan sang wanita terlihat
bosan. Mereka sepertinya tidak sedang berbahagia sore itu.
"kenapa kau menghilang?" Tanya pria itu
"aku tak butuh penjagaanmu lagi, dan perlu kau tahu, aku memilih
ini dengan kesadaran penuh, tidak seperti yang kau bayangkan."
"aku tidak bermaksud menjagamu, aku menghargai semua pilihanmu
jika itu bagian dari kesadaranmu, tapi aku membutuhkanmu."
“untuk apa?” Wanita itu semakin menampakkan wajah bosannya.
“untuk membuatku ada.” Laki-laki itu berkata pelan sambil menatap
dalam wanita didepannya
"kau akan terus ada meski tak bertemu denganku." perempuan itu mengeluarkan kata-kata
terkahirnya hari itu. Sesaat kemudian ia pergi, menghilang ditelan pohon-pohon angsana,
bangku taman, dan kesunyian lelakinya.
Orang-orang terus berlari riang,
pekerja taman masih mengeluh kerepotan, dan si pohon tua sudah di tempat pembuangan,
tetapi si lelaki itu tetap diam, tak mengejar, tak memanggil, hanya berbalik lalu
pulang. Dia tahu kisahnya dengan perempuan itu sudah habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar