"berhentilah merokok"
kata wanita itu pelan sambil membenahi rambutnya yang acak-acakan setelah pergumulan malam itu.
Diantara suara hujan bulan September, mereka berbicara
dalam bahasa yang tak semua orang tahu. Si lelaki bersuara seperti sapi,
melenguh panjang, kadang tersendat sebentar lalu melenguh lagi. Sedangkan si wanita
bersuara seperti anjing, menyalak-nyalak tak karuan, tak berhenti sepanjang malam.
Semuanya berserakan, pakaian dan punting rokok, rambut dan keringat. Tubuh mereka
berdempet basah, seperti tanah pada rumput, seperti air hujan pada atap.
"ahh. Apa pedulimu, aku menikmati
asap rokokku, seperti aku menikmati mu dan setiap waktuku bersamamu"
laki-laki itu menimpali sambil tersenyum tipis, kadang sesekali ia memainkan asap
putih dari mulutnya, yang melayang pelan ke langit-langit, lalu hilang entah kemana.
Kau tahu, mereka berdua seperti
pasangan serasi. Si Laki-laki adalah pria tampan dengan hidupan yang berkecukupan.
Si Perempuan pun demikian, kau akan disarankan pergi ke dokter mata jika menyebut
wanita itu tidak cantik. Dan malam itu mereka melepaskan semuanya. Hasrat,
birahi, cinta, semua melebur menjadi sesuatu yang membuat mereka kelelahan di
pagi yang sangat basah itu.
"ah kau tak akan pernah mendengarkan
aku" kata perempuan itu sambil memandangi asap putih dari lelakinya yang keluar-masuk
dari mulut, ke hidung, lalu ke mulut, lalu ke udara, lalu lagi-lagi hilang.
Sepertinya ditelan cahaya lampu kamar dan udara pagi yang masuk dari sela-sela jendela
dan lubang kunci.
laki-laki itu melirik sebentar ke
perempuannya, tersenyum lagi. "kau tahu, saat pertama kali menatapmu, aku tak
bisa berkata apa-apa. Kau begitu cantik, tetapi saat kau bicara semuanya
berbeda. Kau seperti robot. Setiap kata yang kau lontarkan itu seperti sudah terpogram
dalam kepalamu, dan yang kau keluarkan serupa surat-surat yang biasa aku terima,
dingin dan tak bernyawa."
"kau akan tahu jika jadi aku"
perempuan itu menjawab pelan, lalu menarik selimut untuk menutupi sebelah dadanya
yang sedari tadi terbuka. “dingin” katanya lirih.
"jangan begitu, bukan kah ini
sudah ke lima kalinya kita seperti ini. Jika seperti itu terus kau bisa membuatku
tak bernafsu"
"ke enam kali, dan kau selalu
bernafsu jika bersamaku. Kau tak bisa menghindari itu"
laki-laki itu tertawa singkat, mendengar
wanitanya. Dia mematikan rokoknya dan membalikkan badan, menghadap wanitanya itu
sambil menopang kepalanya dengan salah satu tangannya
"baiklah aku akui itu,
tapi kau harus tahu bahwa sebuah percakapan bisa membuat pertemuan kita hangat dan
berkesan"
"kau selalu berbicara seperti
itu, setiap kita melakukan ini"
"apa aku salah? Percayalah
padaku, hilangkan kata, 'sesuai janji', 'sudah siap', atau 'mari kita mulai',
hilangkan kata-kata dingin itu maka kau, atau hubungan kita ini, akan dua, tiga
kali lebih menggairahkan." Laki-laki itu kembali menatap langit-langit,
lalu mengambil rokonya lagi
"sudahlah, untuk apa kau mengaturku,
kau saja tak bisa diatur."
Wanita itu bangkit dari tempat tidur,
menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut lalu pergi ke kamar mandi. Si lelaki menatap
wanitanya, belum sempat menyalakan rokoknya,
dia bangkit menyusul wanitanya. Tapi wanita setengah telanjang itu keburu menutup
pintu kamar mandi. Si lelaki hanya berdiri
di depan kamar mandi, sedikit berteriak diab erkata,
"jika kau ingin aku berhenti
merokok, maka aku akan berhenti, jika kau ingin aku tak mengatur mu akan ku lakukan,
tapi hilangkan kata-kata dingin mu itu."
Laki-laki itu
lalu berpakaian, dan pergi meninggalkan wanitanya yang sedang mandi dan hotel
yang masih pagi. Sebelum pergi, tak lupa, seperti enam pertemuan sebelumnya, lelaki
itu meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di tempat tidur, kemudian kembali
menemui istrinya tanpa sempat mandi dan membawa rokok tapi membawa beberapa mainan
untuk anak laki-lakinya. Dia membeli di depan hotel tempatnya bermalam dengan
wanita cantiknya.
Beberapa bulan kemudian, si lelaki lebih sering bersama wanitanya yang cantik daripada istrinya. Mungkin saat itu musim hujan dan udara sangat dingin, atau mungkin juga karena istrinya telah pergi tanpa menginiggalkan pesan, hanya cemoohan tentang gundik pada anaknya. Hingga pada akhir tahun, si lelaki dan wanita cantik menikah. Anak mereka masih tak tau pesan ibunya, si lelaki sudah berhenti merokok,
dan si wanita cantik sudah tak pernah mengeluarkan
kata 'sesuai janji', 'sudah siap', dan 'mari kita mulai', mereka berdua sepakat
untuk menggantinya dengan 'aku mencintaimu', 'berbaringlah sayang', 'terima
kasih', dan terkadang 'mari kita lakukan lagi sayang', dan si anak hanya diam jika sedang bersama ibu barunya.
Jika ada
yang bertanya padamu tentang kisah ini, ceritakan saja bagian dimana lelaki itu
berhenti merokok dan menikahi wanitanya yang cantik, jangan ceritakan sisanya,
karena ini adalah kisah yang ku inginkan berakhir bahagia. Seperti waktu anakku
mendapat mainan di bulan September itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar