Senin, 03 November 2014

Kaku




"berhentilah merokok" kata wanita itu pelan sambil membenahi rambutnya yang acak-acakan setelah pergumulan malam itu.
Diantara suara hujan bulan September,  mereka berbicara dalam bahasa yang tak semua orang tahu. Si lelaki bersuara seperti sapi, melenguh panjang, kadang tersendat sebentar lalu melenguh lagi. Sedangkan si wanita bersuara seperti anjing, menyalak-nyalak tak karuan, tak berhenti sepanjang malam. Semuanya berserakan, pakaian dan punting rokok, rambut dan keringat. Tubuh mereka berdempet basah, seperti tanah pada rumput, seperti air hujan pada atap.

"ahh. Apa pedulimu, aku menikmati asap rokokku, seperti aku menikmati mu dan setiap waktuku bersamamu" laki-laki itu menimpali sambil tersenyum tipis, kadang sesekali ia memainkan asap putih dari mulutnya, yang melayang pelan ke langit-langit, lalu hilang entah kemana.

Kau tahu, mereka berdua seperti pasangan serasi. Si Laki-laki adalah pria tampan dengan hidupan yang berkecukupan. Si Perempuan pun demikian, kau akan disarankan pergi ke dokter mata jika menyebut wanita itu tidak cantik. Dan malam itu mereka melepaskan semuanya. Hasrat, birahi, cinta, semua melebur menjadi sesuatu yang membuat mereka kelelahan di pagi yang sangat basah itu.

"ah kau tak akan pernah mendengarkan aku" kata perempuan itu sambil memandangi asap putih dari lelakinya yang keluar-masuk dari mulut, ke hidung, lalu ke mulut, lalu ke udara, lalu lagi-lagi hilang. Sepertinya ditelan cahaya lampu kamar dan udara pagi yang masuk dari sela-sela jendela dan lubang kunci.

laki-laki itu melirik sebentar ke perempuannya, tersenyum lagi. "kau tahu, saat pertama kali menatapmu, aku tak bisa berkata apa-apa. Kau begitu cantik, tetapi saat kau bicara semuanya berbeda. Kau seperti robot. Setiap kata yang kau lontarkan itu seperti sudah terpogram dalam kepalamu, dan yang kau keluarkan serupa surat-surat yang biasa aku terima, dingin dan tak bernyawa."

"kau akan tahu jika jadi aku" perempuan itu menjawab pelan, lalu menarik selimut untuk menutupi sebelah dadanya yang sedari tadi terbuka. “dingin” katanya lirih.

"jangan begitu, bukan kah ini sudah ke lima kalinya kita seperti ini. Jika seperti itu terus kau bisa membuatku tak bernafsu"

"ke enam kali, dan kau selalu bernafsu jika bersamaku. Kau tak bisa menghindari itu"

laki-laki itu tertawa singkat, mendengar wanitanya. Dia mematikan rokoknya dan membalikkan badan, menghadap wanitanya itu sambil menopang kepalanya dengan salah satu tangannya

"baiklah aku akui itu, tapi kau harus tahu bahwa sebuah percakapan bisa membuat pertemuan kita hangat dan berkesan"

"kau selalu berbicara seperti itu, setiap kita melakukan ini"

"apa aku salah? Percayalah padaku, hilangkan kata, 'sesuai janji', 'sudah siap', atau 'mari kita mulai', hilangkan kata-kata dingin itu maka kau, atau hubungan kita ini, akan dua, tiga kali lebih menggairahkan." Laki-laki itu kembali menatap langit-langit, lalu mengambil  rokonya lagi

"sudahlah, untuk apa kau mengaturku, kau saja tak bisa diatur."

Wanita itu bangkit dari tempat tidur, menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut lalu pergi ke kamar mandi. Si lelaki menatap wanitanya, belum sempat  menyalakan rokoknya, dia bangkit menyusul wanitanya. Tapi wanita setengah telanjang itu keburu menutup pintu kamar mandi.  Si lelaki hanya berdiri di depan kamar mandi, sedikit berteriak diab erkata,

"jika kau ingin aku berhenti merokok, maka aku akan berhenti, jika kau ingin aku tak mengatur mu akan ku lakukan, tapi hilangkan kata-kata dingin mu itu."

Laki-laki itu lalu berpakaian, dan pergi meninggalkan wanitanya yang sedang mandi dan hotel yang masih pagi. Sebelum pergi, tak lupa, seperti enam pertemuan sebelumnya, lelaki itu meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di tempat tidur, kemudian kembali menemui istrinya tanpa sempat mandi dan membawa rokok tapi membawa beberapa mainan untuk anak laki-lakinya. Dia membeli di depan hotel tempatnya bermalam dengan wanita cantiknya. 

Beberapa bulan kemudian, si lelaki lebih sering bersama wanitanya yang cantik daripada istrinya. Mungkin saat itu musim hujan dan udara sangat dingin, atau mungkin juga karena istrinya telah pergi tanpa menginiggalkan pesan, hanya cemoohan tentang gundik pada anaknya. Hingga pada akhir tahun, si lelaki dan wanita cantik menikah. Anak mereka masih tak tau pesan ibunya, si lelaki sudah berhenti merokok, dan si wanita cantik sudah tak  pernah mengeluarkan kata 'sesuai janji', 'sudah siap', dan 'mari kita mulai', mereka berdua sepakat untuk menggantinya dengan 'aku mencintaimu', 'berbaringlah sayang', 'terima kasih', dan terkadang 'mari kita lakukan lagi sayang', dan si anak hanya diam jika sedang bersama ibu barunya. 

Jika ada yang bertanya padamu tentang kisah ini, ceritakan saja bagian dimana lelaki itu berhenti merokok dan menikahi wanitanya yang cantik, jangan ceritakan sisanya, karena ini adalah kisah yang ku inginkan berakhir bahagia. Seperti waktu anakku mendapat mainan di bulan September itu.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar