Minggu, 23 Juni 2013

Tentang Derita Para Pencipta

-derita adalah berkah bagi para pencipta-
Buya Hamka

Kurang lebih begitu kutipan percakapan saat ibu dari tokoh utama wanita, Hayati, meyakinkan Hayati untuk tidak menemui Zainuddin, tokoh utama pria, dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Disadari atau tidak, memang benar derita, luka, dan perasaan hina sering menjadi sumber inspirasi terbesar bagi para pencipta, bukan Tuhan atau Dewa, tapi manusia. Pencipta di sini adalah orang-orang yang mampu menelurkan entah karya sastra, karya tulis, kebijakan pemerintah, atau mungkin cinta.

Ada Garin Nugroho membuat film-film berkualitas karena melihat keterpurukan industri film Indonesia, Antonio Gramsci terkenal karena tulisannya saat dia di penjara, Hitler yang berhasil menguasai sebagian Eropa karena keterpurukan hidup di Jerman saat dia muda, Obama menjadi presiden Amerika karena dulu dia hidup di Indonesia (mungkin), dan bahkan Indonesia bisa merdeka karena dulu rakyatnya menderita akibat penjajah.

Berbicara soal derita, akhir-akhir ini banyak derita yang masuk berita. Pedagang daging menderita karena harga daging mahal, ibu-ibu menderita karena harga sayur naik, tukang ojek menderita karena harga bensin bertambah, dan yang paling kasihan mahasiswa menderita karena (katanya) tidak didengar sama pemerintah. Intinya rakyat Indonesia menderita.

Ini menarik, karena secara logika saat ini rakyat Indonesia berada dalam keadaan sama seperti zaman penjajahan. Bedanya, jika dahulu karena Belanda, Jepang, atau mungkin Soeharto dan anak-anaknya, sekarang menderita karena bensin, solar, dan harga-harga naik, jika dahulu harus berhadapan dengan senjata untuk melawan derita, sekarang harus berhadapan dengan harga-harga yang tinggi, jika dahulu harus berdarah-darah, (mungkin) sekarang harus lebih berkeringat saja.

Pertanyaannya, mana yang lebih mudah? Itu tergantung pertimbangan anda yang membaca.

Selanjutnya, jika kita padukan argumen paragraf satu dengan argumen paragraf tiga akan membentuk kesimpulan bahwa seharusnya akan banyak orang Indonesia seperti, Garin Nugroho, Antonio Gramsci dan tokoh-tokoh lain yang menderita dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami seharusnya mampu memaksa masyarakat untuk lebih kreatif, lebih cerdas, lebih bekerja keras. Mungkin pedagang daging akan membuat model pengemasan atau bahkan diversivikasi produk sapi sehingga negara tidak impor lagi dan tidak di korupsi lagi, ibu-ibu mungkin akan mengganti tanaman bunga hias yang hanya indah dengan sayur mayur dan buah, dan para tukang ojek akan beralih dari motor berbahan bakar bensin ke bahan bakar gas (siapa tahu), dan para mahasiswa berdemo bisa membantu pedagang daging, ibu-ibu, dan tukang ojek untuk mewujudkan hal itu.

Pertanyaannya, apa mereka sadar akan hal itu?  atau mereka terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar