Kita harus memutuskan sekarang dan mengambil posisi di mana kita harus berada. Bukan posisi tidur, bukan posisi duduk, bukan posisi lalu lintas, itu polisi, tapi posisi untuk masa depan. Mungkin terkesan berat, maka dari itu tadi ada plesetan kata supaya lebih ringan. Pilihannya ada banyak, menjadi ibu-ibu yang mengawasi anaknya mengemis, menjadi penjual kemoceng dari bulu ayam yang buta, atau menjadi seperti kebanyakan orang yang berseliweran di lampu merah dan tak peduli. Pilihan itu ada di depan mata, jadi tidak usah bingung. Hanya tinggal memilih saja ingin seperti apa.
Pertama, Mulai dari ibu-ibu yang mengawasi anaknya mengemis, mungkin nanti saat kalian menjadi ibu-ibu dan tidak punya pekerjaan (atau malas bekerja), jadi harus memanfaatkan anugerah dari Tuhan, yaitu anak, untuk belajar "berwirausaha" sejak kecil. Pilihan ini sering diambil saat filosofi jawa "banyak anak banyak rezeki" dianggap tidak berlaku dalam diri seorang pemalas.
Kedua, menjadi penjual kemoceng buta, mungkin nanti penglihatan kalian akan hilang, anak-anak kalian tidak peduli, dan kalian butuh uang untuk menghidupi diri, jadi terpaksa kalian harus menjual kemoceng. Pilihan ini adalah pilihan yang lebih mulia dari sebelumnya, jauh lebih mulia.
Ketiga, menjadi orang yang tidak peduli. Pilihan ini mungkin yang paling mudah, tapi ada kemungkinan bahwa yang memilih ini belum siap untuk menjadi miskin, buta, dan ditinggalkan keluarga, atau terlalu takut menjadi miskin, buta, dan ditinggal keluarga jadi memilih untuk mementingkan diri sendiri, dan tidak peduli. Pilihan ini adalah pilihan yang rasional
Ada pilihan terakhir, pilihan yang tidak populer, pilihan yang tidak sesuai dengan prisnsip ekonomi. Menjadi orang yang peduli. Tak banyak yang mau memilih posisi ini. Alasannya banyak, malas, belum siap (memang nikah), belum mampu, sudah peduli dengan berdoa (wtf). Tapi tidak banyak yang sadar bahwa pilihan ini akan menghindarkan kita dari tiga pilihan sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar