Jumat, 29 Maret 2013

Manusia dan Uang


Hari ini saya membaca tulisan-tulisan teman saya di blog pribadi mereka, tulisannya bagus, sederhana, dan apa adanya. Mereka menulis semuanya, kehidupan pribadi, lagu favorit, apa yang mereka baca, dan semuanya yang mereka ingin tulis. Setelah membacanya, kemudian teori manusia Indonesia yang suka tiru-tiru melanda saya, saya langsung buka itu Microsoft word, saya mulai mengetik. Satu kalimat pendek, saya hapus, ketik lagi, satu kalimat pendek, saya hapus lagi, terus begitu hingga empat atau lima kali, entahlah, saya lupa.

Dalam kebingungan yang luar biasa, saya sadar satu hal, manusia diciptakan berbeda beda, ada yang bisa menulis, ada yang bisa menggambar, ada yang bisa main gitar, ada yang bisa nyanyi, ada yang tidak bisa semuanya (saya salah satunya), saya mulai yakin menulis bukan kotak yang dibuat untuk saya. Tapi kemudian saya ingat kata pesulap eh presenter gundul yang kondang, dia bilang begini,

“saya punya uang seratus ribu, saya buang dijalan, tetap seratus ribu. Uang seratus ribu tadi saya remas, saya buang dijalan, tetap seratus ribu. Uang seratus ribu itu saya remas, saya injak-injak, saya ludahin, tetap seratus ribu. Itulah manusia.”


Awalnya saya simpulkan manusia itu suka mengambil uang meskipun uang itu sudah kusut dan  bau ludah, dia benar, hebat si gundul ini pikir saya, tapi ternyata saya salah, dia bilang kalo manusia itu diibaratkan uang, yang tidak akan pernah kehilangan hakikatnya sebagai manusia, mau dia cacat, lemah, jelek, tidak bisa apa-apa, dia tetap manusia.


kata-kata itu buat saya yakin, manusia tidak punya keterbatasan, tiap manusia bisa membuat kotak-kotaknya sendiri, dan lepas dari kotak-kotak yang sudah ada sebelumnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba nulis meskipun gak bisa nulis. Tapi masa bodoh, yang penting tulis dulu, diperbaiki kemudian. Siapa tahu saya bisa jadi penulis yang tidak bisa menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar