Senin, 11 Agustus 2014

iseng

apa kabarmu? lama tak mendengar berita tentang mu. Apa kamu sudah dimakan hantu? atau aku yang sedang dimakan rindu? aku tak tau

Minggu, 20 Juli 2014

Single-Serving Friend

Kemarin saya  pulang dari Jogja, naik bis dari Probolinggo sampai Besuki terus lanjut naik bis dari Besuki sampai Situbondo. Di perjalanan Probolinggo-Besuki, saya duduk di bangku tiga dua baris dari bangku belakang. Di sebelah saya ada seorang mas-mas berkulit gelap, berpotongan rambut seperti tentara, memakai anting di telinga sebelah kiri, wajahnya juga gelap, karena lampu bis remang-remang mirip angkringan. Mas-mas ini bisa kita sebut sebagai single-serving friend. Istilah ini saya tahu dari film Fight Club. Istilah ini digunakan untuk orang-orang yang kamu kenal di perjalanan sebagai teman bicara untuk mengisi kekosongan waktu disaat perjalanan, kurang lebih seperti itulah. Kembali ke mas ini, dia menyapa saya setelah lima belas menit perjalanan. Dia bertanya "mau kemana?" saya jawab "Situbondo, mas?", "Bondowoso, harusnya naik yang bis dibelakang, langsung ke Situbondo.", "ia mas, salah masuk bis tadi.", "Situbondo mana?" dia melanjutkan. "Panji mas. pernah ke Situbondo?", tanya saya. "Pernah, ikut pengajian akbar dulu, kamu sering ikut pengajian akbar?", dan percakapan kami berlanjut. Bukan berlanjut ke ranjang, tapi berlanjut dengan cerita dia soal pengajian akbar dan kiyai-kiyai besar di seputaran Situbondo sampai Jember. Berikut saya kutipkan sedikit percakapan kami:

Saya (s) : jarang mas, cuma beberapa kali dulu sebelum kuliah. (kenyataan saya tidak pernah ikut).
Mas (m) : ohh, cobalah ikut sekali-kali. Kamu tau kiyai Muzakki? (seorang kiyai yang cukup terkemuka di jatim)
S : ohh ia saya tahu mas. dulu pernah diajak ke pengajiannya.
M : dia itu kiyai besar loh, muridnya ribuan, pengajiannya setiap Jumat Manis tak pernah sepi dari pengunjung.
S : ohh ia mas?? ia ia.
M : dia itu sudah pernah di "tebak" (diramal) oleh kiyai Hasyim Asy'ari (pendiri NU) bakal jadi kiyai terkemuka, pengunjungnya saja dari Amerika, Luar Negeri, Mesir, Mekkah, bahkan ada yang mengatakan dia itu keturunan dari Syekh Abdul Qadir Jaelani (seorang ulama besar). 
S :  ohhh, ckckckc, ya ya ya. (disini, saya kagum sekaligus agak kaget)
M : dia (Kiyai Muzakki) itu gak sombong meskipun ilmunya tinggi dek, dia itu istiqomah, ini yang terpenting. Gak peduli ilmunya tinggi tapi gak istiqomah itu percuma. Kita juga harus istiqomah, jangan sombong, kayak dia.
S : ia mas. itu penting sekali, istighfar juga (ini saya ucapkan dengan sangat perlahan)

Percakapan ini adalah bagian pertama. Pada percakapan ini, mas ini menasihati saya banyak hal dan juga bercerita banyak hal. Dia bercerita soal silsilah kiyai, pengalaman dan kemampuan mereka, pesan-pesan teladan, dan hal-hal yang bisa kita gunakan sebagai bekal kita hidup di akhirat nanti. Atau sekilas, mas ini memberi gambaran bahwa ia adalah mas-mas berwajah gelap yang taat beribadah. Tapi ini tahap pertama. Mari kita lihat percakapan tahap kedua:

S : mas kerja di mana? (disini saya sedikit mengalihkan topik) 
M : di perusahaan mebel, kamu kuliah di mana? 
S : di Jogja mas, ohhh. jadi mas buat mebel?
M : enggak, saya bagian pengiriman. UGM ya? saya pernah kesana.
S : ohh, ia mas. wah ngapain mas ke Jogja dulu?
M : dulu studi tour. eh gimana cewek di jogja? cantik2 ya? kamu punya pacar?
Saat pertayaan ini diajukan, mas-mas itu mengubah antingnya ke sebelah kanan, ternyata antingnya dari magnet. Selain anting, seluruh lanjutan percakapan kami berubah.
S :  iya gitulah mas. hehehe. gak punya mas. males. mas punya?
M : punya, (sambil menunjukkan foto pacarnya), di jogja sering "minum" (mabuk)?
S : wah gak pernah mas. takut mabuk. antimo gak mempan (ini juga saya ucapkan perlahan)
M : masa gak pernah? coba lah. oia tau Sarkem  kan? saya dulu pas studi tour kesana pas mabuk sampai pagi. murah-murah ternyata. 250 dan 350 sudah dapet. hahaha
S : ohhh, ia ia.
M : eh hapemu apa? ada videonya gak? (sambil tersenyum lirih dan mengangkat alis)
S : wah gak ada mas hape saya biasa (sambil mengeluarkan hape)
M : hmmm, eh kalo di Situbondo gimana ceweknya?
S : ya begitulah mas. kenapa mas?
M : saya dulu ke Situbondo, ceweknya biasa dek, yang nakal banyak. saya dulu sampai mukulin orang gara-gara itu. 
S : ohh ia-ia mas, bener itu. (sambil duduk agak menjauh dan berhenti melihat foto ceweknya)

Percakapan bagian dua ini terjadi sepanjang Pajarakan hingga Besuki. Mas ini bercerita tentang dia yang suka mabuk sambil menonton acara musik di alun-alun Situbondo, Bondowoso, sampai Jember, dan setiap Jum'at Manis tak lupa pergi ke pengajian akbar salah satu Kiyai di Jawa Timur. Saya tidak terlalu yakin, tetapi nampaknya perubahan posisi anting cukup berpengaruh. Mas anting kanan ini bercerita banyak soal tempat dia mabuk, pacarnya seperti apa, pekerjaannya, dan kegiatan dia setelah menonton musik (mukulin orang). Ini memberi saya gambaran bahwa kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya, bahkan kita tidak berhak untuk menilai orang. Setiap manusia itu diciptakan berbeda-beda dan unik, penilaian kita dari penampilannya berarti menghalangi segala keunikan yang mungkin ada di dalam diri setiap orang. Intinya, don't judge a book from it's cover, tapi lihat di Goodreads.

Epilog

Percakapan dalam bis ini terus berlanjut. Diantara teriakan kondektur yang mencari penumpang dan suara bus yang tak karuan, saya duduk sesekali melihat depan sambil berusaha melihat jalan yang tertutup tengkuk perempuan tapi tetap mendengar mas ini bercerita. Saya berpikir, apakah ini keseimbangan? ataukah ini hanya momen yang tak sengaja muncul dalam perjalanan? Tapi segala sesuatu hadir karena ada tujuan, begitu juga pengalaman mas ini. Kemudian kondektur berteriak "yang Besuki turun!!!" saya berdiri mempersilahkan diri untuk pergi. Saya mengulurkan tangan, sambil berkata,  "terima kasih mas." Dia menjabat tangan saya mantap, sambil berkata, "nama saya Dimas, kamu? siapa tahu kita bertemu lagi?", "Andre" kata saya sambil tersenyum lalu berlalu pergi.  

Jumat, 11 Juli 2014

wanita dan burung

Aku tak mengerti mengapa wanita tua itu dipanggil perempuan gila, padahal beberapa minggu yang lalu dia masih memberi makan burung kesayangannya sambil mengajak bercanda tentang suaminya. Aku tak mengerti mengapa wanita tua itu dipanggil perempuan gila, padahal sebulan sebelumnya dia masih meratapi suaminya yang pergi dijemput truk yang lupa berhenti saat suaminya lewat. Aku tak mengerti mengapa wanita tua itu dipanggil perempuan gila, padahal beberapa bulan sebelum bulan itu dia masih duduk memberi makan burung kesayangannya sambil bercengkrama denganku. Bercerita tentang orang-orang yang memanggilnya wanita gila karena tak bisa melihatku. Aku benar-benar tak mengerti.

Selasa, 15 April 2014

Ada?

Selamat Malam,

Bahkan ketika kita sadar bahwa tidak ada yang bisa menjamin kestabilan teks, kita masih menulis. Mengapa? Karena dengan menulis kita telah menciptakan kehadirandiri, meski tak ada kuasa atasnya. Selama kita bisa menciptakan sarana untuk kehadirandiri, sebebas apapun sarana itu diartikan dan dimaknai, kita tetap berhasil menunjukkan bahwa kita Ada. Yang selalu saya bayangkan ketika ada orang yang membaca setiap tulisan dan mengartikan dengan caranya, adalah "kata dia..." atau "menurutnya..", disinilah letak pengakuan ke-Ada-an saya. Saya dilihat berbeda oleh mereka, yang berarti saya berhasil membedakan diri dengan mereka yang membacanya. Atau saya berhasil menciptakan keterpisahan saya, yang berarti, secara bersamaan saya telah menciptakan kehadirandiri saya dalam benak mereka. Dan saya bahagia atas itu.

Apa ini yang disebut sebagai "egoisme memiliki dan menikmati"? 

Sekian

Terima Kasih

Senin, 10 Maret 2014

Belajar Dari Gerakan Sosial Baru

Apakah ada hegemoni secara menyeluruh seperti kata Gramsci? Tidak, kata James Scott, seorang pengamat perlawanan petani Asia Tenggara. Dalam sebuah hegemoni selalu ada perlawanan, setidaknya itu yang terjadi di dalam perlawanan petani miskin yang terjadi di Sedaka, sebuah daerah di Malaysia. Perlawanan ini terjadi tidak dalam jumlah yang besar dan sekaligus (aksi kolektif), tetapi dalam tingkat yang kecil, berlangsung setiap hari dan terus-menerus. Perlawanan ini yang disebut oleh Scott sebagai everyday resistance. Perlawanan sehari-hari inilah yang disebut senjata kaum lemah. Fakta ini kemudian dijadikan sebagai kritik terhadap konsep hegemoni atau dominasi ideologi dari Gramsci. Mengapa? Karena Gramsci mengatakan bahwa dominasi ideologi akan menjamin terciptanya keteraturan sosial dan aparatur negara yang menindas menjadi layar dibaliknya. Kondisi ini meletakkan kelompok penguasa berada dalam posisi yang kuat dan diterima, dan segala tindakannya yang menindas diterima sebagai sebuah  kewajaran. Hegemoni, dalam istilah Marcuse, memunculkan euphoria in unhappiness, yakni kebahagiaan dalam ketidakbahagiaan, atau perayaan atas ketidakbahagiaan, (Herbert Marcuse, 2002, hal. 7) atau menurut Joseph Femia adalah subordinasi moral dan intelektual. Dalam kondisi ini, masyarakat tidak akan mampu melakukan perlawanan terhadap hegemoni, karena masyarakat tidak sadar (dibuat tidak sadar), sehingga dibutuhkan kesadaran terlebih dulu untuk bergerak dan melawan. Ringkasnya, dalam logika Gramsci, pemerintahan yang kuat dan mendapat legitimasi masyarakat memunculkan sebuah kesadaran palsu di masyarakat, yang mana kesadaran palsu ini membatasi atau menghambat masyarakat untuk keluar dari dominasi ide yang dilakukan oleh penguasa, dan dalam pengertian ini Gramsci mengemukakan pentingnya intelektual organik, yang sadar mampu menyadarkan masyarakat dan membangkitkan kesadaran kritis. Kesadaran kritis ini ditentukan oleh ideologi yang dibawa oleh intelektual organik tadi. Dan ketika kesadaran kritis ini terbentuk dalam masyarakat, barulah ada aksi kolektif yang diharapkan mampu untuk melakukan perubahan sosial yang radikal. Aksi ini sering disebut sebagai gerakan sosial.

Namun, dalam kondisi di Sedaka, petani tidak perlu menunggu datangnya juru selamat-- sang intelektual organik--yang diharapkan mampu menyadarkan dirinya akan ketertindasannya. Menurut Scott, dalam konsep hegemoni Gramsci, terdapat lima hal yang kurang diperhatikan. Sayangnya, saya kurang bisa mengartikan secara baik lima hal tersebut dalam kaidah bahasa Indonesia, maka saya akan meringkasnya seperti ini.
Konsep hegemoni Gramsci abai dalam memperhatikan keberadaan kaum tertindas, terutama dalam hal pengalaman material yang melatarbelakangi ideologi yang sebelumnya mereka anut. Pengalaman material disini dapat berupa relasi ekonomi yang sebelumnya telah terbentuk antar masyarakat. Masuknya ideologi dominan, yang selanjutnya menjadi ideologi hegemon, secara tidak langsung menghancurkan relasi ekonomi ini. Namun, pada kenyataannya hadirnya ideologi hegemon tidak mampu--secara penuh--menghancurkan pengalaman-pengalaman material tersebut, karena jika dilihat secara historis masyarakat akan mempertahankan interpretasinya terhadap ideologi yang mereka anut sebelumnya, yang mana berbeda atau bahkan melawan ideologi baru yang dibentuk oleh elite dan/atau negara. (James C. Scott, 1985, hal. 317-8)
Penjelasan diatas yang kemudian mengakibatkan para petani di Sedaka melakukan perlawanan, tapi dalam bentuk-bentuk aksi non-koletif dan militan, seperti pencurian, pembakaran, dan bentuk-bentuk perlawanan lainnya, demi meningkatkan kondisi mereka. Namun, bagaimana mungkin aksi-aksi yang seperti ini mampu melepaskan mereka dari dominasi, jika aksi ini hanya mengandalkan keberanian dan spontanitas, tanpa ada sediktpun ruang untuk benar-benar secara terbuka berhadapan dengan aparatur yang menindas tadi? Jawabannya terletak pada arti dari perlawanan itu sendiri. Dalam kondisi normal, aktivitas melawan memiliki tujuan untuk menghancurkan dominasi, tetapi menurut saya, aktivitas melawan bukan melulu menghancurkan dominasi. Aktivitas melawan seharusnya mampu membangkitkan semangat melawan bagi yang lain. Aktivitas melawan harus mampu menciptakan kondisi revolusioner yang dapat mendukung revolusi radikal. Jadi kuncinya terletak pada kondisi yang harus mampu dia ciptakan, bukan sebanyak apa orang yang sadar dan mau untuk melawan.

Menurut James Petras dan Henry Veltmeyer, ada dua bentuk strategi aksi melawan kapitalisme, pertama aksi seperti para petani di Sedaka, melakukan perlawanan yang sifatnya non-kolektif yang berutujuan memperbaiki kondisi hidupnya, yang kedua  membentuk sebuah aksi kolektif yang memungkinkan adanya gerakan sosial dan menghancurkan kapitalisme (Petras dan Veltmeyer, 2011, hal. 2). Aksi pertama lebih dikenal dengan sebutan new social movement. Jika kita lihat disini, dua aksi ini oleh Petras dan Veltmeyer sama-sama disebut sebagai aksi perlawanan. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa dua aksi yang dilakukan baik kolektif dan non-kolektif memiliki tujuan yang kurang lebih sama, menghilangkan dominasi atas dirinya. Kritik yang sering muncul atas new social movement ini adalah ketidakmampuannya dalam melingkupi keseluruhan masyarakat, terlalu mengawang-ngawang dan jauh dari realitas sosial, orientasinya yang terlalu menekankan identitas ketimbang ideologi, yang secara sarkastik disebut Petras dan Veltmeyer sebagai politik imaji posmodernis (ibid, hal. 80). Hal ini wajar, mengingat pentingnya pembahasan identitas seseorang muncul karena kapitalisme telah menghilangkan ikatan-ikatan tradisional yang membentuk identitas kelompok, sehingga seseorang kehilangan identitasnya, dan mengharuskannya mencari identitas baru. Dengan kata lain, semangat perjuangan mencari identitas individu bukan lagi perjuangan untuk melepaskan dominasi melainkan melanggengkan dominasi karena alih-alih menghancurkan belenggu kapitalisme yang menghilangkan identitas kelompok, mereka mencari bentuk identitas baru agar bisa hidup didalamnya. 

Namun, jika kita kembali pada pembahasan gerakan sosial. Kita dapat melihat gerakan sosial baru telah mencapai tahap perlawanan yang jauh lebih maju dibanding dengan perjuangan  gerakan kiri dalam agenda besar menghancurkan kapitalisme. Tak jarang gerakan sosial baru digunakan oleh aktivis gerakan kanan untuk menjalankan agendanya melanggengkan kapitalisme. Seperti yang terjadi di Ukraina protes kelompok ultra kanan yang pro Uni Eropa, yang awalnya (hanya) menolak kebijakan negara yang terlalu dekat dengan Rusia, menjadi  perlawanan besar-besaran terhadap konstitusi karena dianggap memberikan wewenang terlalu besar terhadap Presiden. Hingga berakhir dengan jatuhnya presiden Ukraina. Atau yang saat ini sedang terjadi di Venezuela, ketika kelompok ultra-kanan anti revolusi bolivarian ala Chaves berusaha menciptakan kondisi revolusioner dengan membawa isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, dan agenda neoliberal lainnya. Atau yang sedikit lama, ketika pemerintahan sosialis Chile di masa Allende dijatuhkan secara sepihak oleh militer dibawah pimpinan Pinochet. Aksi-aksi diatas saya rasa tidak menunggu kesadaran dari seluruh masyarakat untuk mengetahui agenda, tujuan, dan maksud dari aksi perlawanan tersebut. Tetapi yang berusaha mereka ciptakan adalah kondisi yang mendukung semangat revolusioner dari tiap-tiap individu dalam masyarakat. Mereka berusaha membangkitkan kembali pengalaman material masyarakat sehingga seolah-olah ada kesamaan visi dalam perlawanan mereka, padahal sebaliknya. Inilah yang disebut oleh Indoprogress sebagai neopopulisme.

Kemudian dimana gerakan aktivis kiri? Saya rasa ada ketakuatan dari aktivis kiri untuk membangun sebuah gerakan yang spartan, yang gampang runtuh karena arus pasang. Aktivis gerakan kiri nampaknya sedang menyusun strategi yang benar-benar ciamik untuk meruntuhkan kapitalisme. Tapi sepertinya mereka lupa permainan sudah berjalan. (lupakan). Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil. Saya rasa dalam membangun sebuah gerakan, kita harus banyak belajar dari gerakan sosial baru tersebut. Bukan dari apa yang diperjuangkan tapi semangat yang berusaha dia salurkan. Semangat untuk terus melakukan perlawanan, dengan mengingatkan kembali pengalaman material yang ada dalam benak setiap individu. Dalam level mikro, ketrlibatan masyarakat dalam aksi protes (perlawanan) bukan ditentukan oleh proses ideologisasi atau kesadaran akan kepentingan politiknya, tetapi hasil dari keterikatan sosial dan kedekatan asosiasional yang dapat mempersiapkan mereka secara struktural mampu melakukan aksi tersebut. (Doug McAdam, dalam Enrique Larana, 1994, hal. 36-7). Keterikatan sosial dan kedekatan asosiasional ini ditunjukkan oleh petani di Sidaka dan banyak aksi-aksi gerakan sosial baru di dunia. Contoh gerakan sosial baru yang menurut saya berhasil adalah protes pengguna telepon di Argentina. Aksi ini kemudian menjadi penting untuk diamati karena dalam proses perlawanannya, yang mulanya hanya dilakukan oleh kelas menengah perkotaan berhasil "menghasut" masyarakat Argentina untuk melakukan perlawanan terhadap agenda-agenda neoliberalisme di Argentina (lihat Sybil Rhodes, 2006) . Meskipun aksi ini tidak lepas dari krtitik, seperti kontinuitas perlawanan yang kemudian berakhir ketika harga telepon rendah, tanap melanjutkan agenda politik yang lebih besar. Terlepas dari hal tersebut, yang bisa kita cermati adalah kemampuannya untuk menciptakan sebuah keterikatan sosial di dalam masyarakat. Inilah yang tidak ada dalam aksi-aksi gerakan kiri. Menurut Marcuse semangat revolusioner (kondisi revolusioner) akan muncul ketika praktik-praktik politik berhasil mengubah masyarakat (Herbert Marcuse, 1969, hal. 79). Disinilah everyday resistance hadir sebagai praktik politik keseharian yang mampu mengubah masyarakat dan menciptakan kondisi revolusioner yang dikatakn Marcuse.

Referensi

H. Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in The Ideology of Advance Industrial Society, Routledge, New York, 2002, 
------------, An Essay on Liberation, Beacon Press, Boston, 1969,

J. Petras dan H. Veltmeyer, Social Movements in Latin America: Neo-liberalism and Popular Resistance, Palgrave Macmillan, New York, 2011,  
S. Rhodes, Social Movement and Free-Market Capitalism in Latin America: Telecommunications Privatization and The Rise of Consumer Protest, State University of New York Press, New York, 2006,
D. McAdam, "Culture an Social Movement", dalam E. Larana, H. Johnston, dan J.R. Gusfield, New Social Movement: From Ideology to Identity, Temple University Press, Philadelpia, 1994,
J. C. Scott, Weapons of the Weak Everyday Forms of Peasant Resistance, Yale University Press, New Heaven, 1985,
C. H. Pontoh, Neopopulisme, editorial Indoprogress, 3 Maret 2014, diakses dari <http://indoprogress.com/2014/03/neopopulisme/> diakses pada 10 Maret 2014

Minggu, 22 Desember 2013

Pemaknaan Silang Kemenangan dan Kekalahan: Sebuah Pemikiran

Dalam setiap pertempuran selalu ada yang menang dan selalu ada yang kalah, dan masing-masing didalamnya tersimpan makna. Makna yang hanya bisa diterima dan dimaknai oleh yang mengalami. Si Kalah akan menerima makna dan memaknai kekalahannya, dan Si Menang akan menerima makna dan memaknai kemenangannya. Namun, dalam beberapa kejadian, atau banyak sekali kejadian, seringkali Si Menang tidak hanya memaknai kemenangannya, tetapi juga akan memaknai kekalahan Si Kalah dan demikian pula sebaliknya--saya namakan ini pemaknaan silang. Fenomena pemaknaan silang ini, menurut saya, adalah sebuah kekeliruan yang besar, karena memaknai sesuatu yang tidak kita alami akan menggiring kita pada sesat makna, seperti kita menilai sebuah pensil dari pengalaman kita melihat sebuah ballpoint atau buku gambar. Dalam konteks kejadian, kita memaknai makan setelah kita buang air (contoh-contoh ini sebenarnya juga menyesatkan).

Kembali ke Si Menang (SM) dan Si Kalah (SK). Ketika SM memaknai peristiwa yang dialami SK, akan memicu pemaknaan dimana SK akan menilai kekalahan SM dari kemenangannya. Dengan kata lain, akan muncul penafsiran seperti, "dia kalah karena dia lalai untuk...", "dia kalah karena dulu dia...", dan yang paling populer sekarang adalah "dia gagal karena dia mewakili golongan tertentu". Dengan kata lain pemaknaan yang dilakukan adalah perbandingan atas keberhasilannya, atau apa yang kita lakukan dan dia yang tidak lakukan. Coba cermati, penafsiran pertama sebenarnya pembanding atas dengan, "kita menang karena kita berhasil untuk...", kedua sebenarnya "kita menang karena kita dulu...", dan terakhir "kita menang karena kita tidak mewakili golongan terntentu". Pemaknaan sesat ini berlaku pula sebaliknya.

Agar tulisan ini lebih bisa dimengerti, mari kita arahkan denganbeberapa  pertanyaan berikut,
pertama, mengapa pemaknaan silang bisa memicu sesat makna?

Pemaknaan silang bisa memicu sesat makna karena pertimbangan yang dilakukan untuk memaknai sebuah kejadian hanya dilakukan dari satu sisi, mengapa? karena sisi yang lain belum pernah dialami. Sangat tidak mungkin kita mempertimbangkan membeli jeruk jika kita tidak pernah melihat dan mengetahui jeruk. Dalam kasus menang dan kalah, SM tidak pernah mengalami kondisi yang dialami SK. Mungkin memang, kasus menang kalah memang sering terjadi, tetapi keadaan dimana kita menang dan kalah tidak pernah sama.  Jadi sangat mustahil untuk secara penuh mengetahui mengapa dia menang dan mengapa dia kalah di suatu waktu.

Kedua, bagaimana pemaknaan seharusnya dilakukan?

Pemaknaan seharusny dilakukan berdasarkan kejadian yang sudah dialami oleh diri sendiri. Dengan kata lain, sebelum melakukan pemaknaan terhadap orang lain yang harus dipertimbangkan lebih dahulu apakah kita pernah mengalami kejadian tersebut dalam keadaan yang sama persis dengan keadaan yang dialami oleh orang itu. Jika kembali dengan kejadian menang dan kalah, apakah SM sebelumnya pernah mengalami kekalahan dengan posisi seperti SK saat dia kalah saat ini. Jika belum, jauhi pemaknaan atasnya.

Ketiga, apakah ini berarti pemaknaan atas orang lain dan kejadian yang dia alami tidak boleh dilakukan?

Tidak, pemaknaan atas orang lain dan kejadian atasnya boleh dilakukan, tapi tetap pertimbangkan apakah pemaknaan yang akan (atau sudah) dilakukan telah mempertimbangkan sisi lain, atau telah memenuhi jawaban dari pertanyaan kedua. Jika tidak, alangkah lebih baik tidak dilakukan.

Dari semua penjabaran diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pemaknaan silang itu jelek. Dan berbagai istilah yang saya perkenalkan diatas hanya untuk kejadian SM dan SK. untuk kejadian lain belum saya coba dan pikirkan. Jika anda ingin melakukannya, silahkan.

Untuk Karya yang Tidak Lagi (bisa) Dibaca

Manusia lahir, menjadi batita kemudian merangkak, menjadi balita kemudian berjalan, menjadi remaja kemudian berlari. Dalam setiap tahap pertumbuhan ada perkembangan, dan dalam setiap perkembangan mengisyaratkan adanya perubahan. Tapi perubahan yang terjadi tidak mengaharuskan dan bahkan tidak mungkin adanya penghapusan atau penghilangan perkembangan yang sudah dijalani. Mudahnya, balita yang sudah bisa berjalan tidak mungkin kehilangan kemampuannya untuk merangkak dan tidak mungkin menghilangkan (sengaja) kemampuannya untuk merangkak, remaja yang sudah bisa berlari, pun demikian. Dia tidak mungkin kehilangan dan menghilangkan kemampuannya untuk berjalan dan merangkak. Meskipun dalam benaknya pasti memperhitungkan kemampuannya untuk berlari jika berlari dan berjalan sama-sama diperlukan untuk mengejar sesuatu. Dari sini dapat disimpulkan,tiga hal penting: (1) tumbuh mengisyratkan pertambahan pada sesuatu yang bisa dihitung dan diperkirakan, sedangkan berkembang adalah pertambahan sesuatu yang tidak dapat dihitung secara matematis, abstrak, tetapi bisa dilihat dan dirasakan, (2) manusia akan tumbuh dan secara bersamaan dia akan berkembang dan mustahil dia berkembang tanpa tumbuh, seperti bayi yang baru tumbuh hingga usia 2 tahun kemudian memaksa berlari, (3) dan, mustahil untuk orang yang berusaha menghilangkan dan kehilangan hasil dari dia tumbuh dan berkembang, kecuali orang itu kecelakaan lalu lumpuh atau lupa ingatan.

Dari metafora manusia itu, mari kita ubah pembahasan yang menarik ini pada kapasitas keilmuan manusia. Untuk membuktikan dua hal penting dari tiga hal penting tersebut dalam kapasitas keilmuan manusia mari kita contohkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kapsitas diri manusia. Buku misalnya, semakin banyak buku yang dibaca maka dapat dikatakan dia sedang dalam proses pertumbuhan. Dalam proses tumbuh ini manusia akan berkembang, semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak ilmu, semakin banyak ilmu semakin tinggi kadar keilmuan seseorang, dan mustahil bagi orang yang sedikit membaca atau tidak bisa membaca dikatakan berilmu tinggi. Selain buku adalah pengalaman, manusia berkembang dengan pengalaman (disini saya menghindari premis "pengalaman bertambah dengan membaca buku" atau "pengalaman membaca buku"). Pengalaman adalah situasi yang pernah dihadapi oleh seorang individu, biasanya pengalaman berbanding lurus dengan usia. Alasannya, orang berusia 22 tahun lebih lama hidup dibanding orang dengan usia 19 tahun, dan orang yang berusia 19 tahun peluangnya, untuk mencapai usia 22 tahun, sama besarnya dengan peluang orang berusia 22 tahun untuk mati. Gampangnya, tidak ada yang bisa memberi kepastian apakah orang berusia 19 tahun bisa hidup sampai berusia 22 tahun. Dengan berdasar pada asumsi tersebut, dapat ditarik kesimpulan orang dengan usia 19 tahun tidak lebih berpengalaman daripada orang berusia 22 tahun karena orang berusia 22 tahun telah menjalani masa tumbuh 3 tahun lebih lama daripada orang berusia 19 tahun, dan dengan demikian ia memiliki perkembangan 3 tahun lebih banyak.

Hal yang penting ketiga, yang sebenarnya berusaha saya jadikan bahan  pembahasan utama, adalah kemustahilan seseorang untuk menghilangkan hasil dari tumbuh dan berkembang. Hasil dari orang yang sudah tumbuh dan berkembang adalah karya. Karya wujudnya bermacam-macam, tulisan, lukisan, pahatan, tindakan, pemikiran (biasanya dituangkan dalam tulisan), dan dalam pembicaraan yang lebih serius, karya-karya tadi biasanya menjadi bukti dari sebuah peradaban. Titik dimana manusia menghasilkan karya adalah titik pembuktian bahwa manusia atau individu telah selesai di salah satu tahap tumbuh dan berkembangnya. Kemustahilan terjadi ketika individu tersebut berusaha menghilangkan karyanya dengan menghapus tulisannya, membakar lukisannya, atau menyesali perbuatannya, biasanya dengan alasan tidak puas. Kenyataannya adalah manusia akan terus tumbuh dan berkembang, itu berarti manusia akan terus menambah kapasitas keilmuannya, dan adalah wajar ketika ada ketidakpuasaan atas karya yang tidak lain adalah hasil dari proses tumbuh dan berkembang. Namun, penilaian dari sebuah karya harusnya dilakukan tidak hanya atau lebih tepatnya tidak mungkin oleh diri sendiri, tetapi oleh orang lain. Mengapa tidak mungkin? karena manusia akan terus tumbuh dan berkembang dan akan terus tidak puas, dan ketidakpuasan ini seringkali bukan menjadi bahan untuk terus tumbuh dan berkembang tetapi menjadi bahan untuk meratapi dan merendahkan diri sendiri.

Dalam lingkup tulisan, di era modern ini, dimana orang telah meninggalkan batu tulis dan daun lontar sebagai media penulisan dan beralih pada blog dan berbagai media elektronik lainnya, hasil karya tidak lagi dibakar, tetapi dihapus atau mungkin disembunyikan. Saya pribadi adalah orang yang sering menyesalkan hal itu. Karena dengan menghapus atau menyembunyikan tulisan, maka penilaian hanya akan didasarkan pada diri sendiri, dan menurut saya ini tidak sehat dan memicu seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Selain itu, menghapus sebuah tulisan atau menyembunyikannya membuat kita menghalangi orang lain untuk tumbuh dan berkembang karena seolah kita membatasi orang tersebut untuk belajar dari pengalaman dan buku yang sudah kita baca. Jadi bukankah lebih baik membiarkan sebuah karya itu tetap ada dan biarkan orang lain menjadi penilai sekaligus murid bagi tahap yang sudah kita lalui ?